| Beranda |
| Tentang Kami |
| Unit Usaha |
| Sumber Daya Manusia |
| Tanggung Jawab Sosial |
| Berita |
| Peta Situs |
| Hubungi Kami |
| Pencarian |
| Karir |
Statistics
Pengunjung: 1220363| Hipmi Imbau Pengusaha Nasional Kuasai Sektor Riil |
|
|
| Wednesday, 11 March 2009 | |
|
JAKARTA -Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mengimbau pengusaha nasional menjadi pelaku utama di sektor riil. Pengusaha nasional diminta tidak sekadar berorientasi brokeryang hanya membeli unit usaha guna mendapatkan izin dari pemerintah kemudian menjualnya kepada investor lain. Ketua Umum Hipmi Erwin Aksa mengatakan, terkait hal itu, pengusaha anggota Hipmi harus menjadi panutan. Dia menuturkan, pengusaha harus mengoptimalkan potensi Indonesia berupa sumber daya alam (SDA) dengan menjadi tuan di rumah di negeri sendiri. Erwin menambahkan, meski membutuhkan suntikan dana dari investor asing, pengusaha nasional harus memegang kendali atas kedaulatan potensi tersebut. "Di negeri ini banyak investor nasional yang masih mampu dengan kekuatan sendiri untuk membangun Indonesia. Sudah saatnya pengusaha nasional berperan besar guna menggerakkan perekonomian Indonesia. Kha tidak bisa bergantung dan berharap hanya kepada investor asing," Erwin di sela jumpa pers mengenai pelaksanaan Sidang Dewan Pleneo (SDP) Hipmi 2009 di Jakarta, pekan lalu. Di sisi lain. Erwin mengakui, Indonesia tetap membutuhkan mitra strategis dalam hal ketersediaan teknologi dan pendanaan yang memadai. Tapi, pengusaha nasional yang harus menjadi pelaku utama. Intinya, pengusaha harus mempunyai nasionalisme dalam memaksimalkan SDA khususnya di daerah-daerah," ujar dia. Ampas Sementara itu, pada kesempatan lain, Erwin menilai, struktur ekonominasional belum berpihak kepada industri kecil dan masih berpihak kepadaindustri besar. "Contoh kasat mata adalah, setiap penurunan suku bunga,industri kecill hanya kebagian ampasnya. Ini sangat kontras denganpengusaha besar yang mendapatkan pinjaman besar dengan grace periodyang cukup lama juga," kata Erwin di Jakarta, Senin (9/3). Diamemaparkan, hal itu karena pelaku industri kecil tidak memilikikemampuan lobi seperti pengusaha besar. Sehingga, lanjut dia, industrikecil tetap mendapatkan pinjaman perbankan dalam jumlah yang kecilnamun dengan bunga yang besar, (eme/rav) |











