| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 1218974| BI Rate, Nasibmu Kini |
|
|
| Wednesday, 11 March 2009 | |
|
Oleh Erwin Aksa Langkah BI menurunkan tingkat suku bunga acuan (BI rate) dari posisi 8,25% sebelumnya menjadi 7,75% pada Maret 2009, tergolong berani dan patut diacungi jempol. Arahnya jelas, yakni memberikan konfidensi bagi pelaku pasar. Pertanyaannya, mengapa langkah tersebut tidak langsung diikuti penurunan bunga kredit? Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono menyatakan, salah satu alasan BI rate diturunkan 50 basis poin menjadi 7,75 adalah perkembangan ekonomi global yang masih terus didera krisis financial Hasil pengamatan dan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan ekonomi dan keuangan di dalam dan luar negeri menunjukkan, krisis diperkirakan masih terus berlanjut dengan waktu pemulihan yang sulit diprediksi. BI mefihat perkembangan ekonomi global terutama di negara-negara maju yang kian melambat bahkan lebih dalam dari perkiraan semula. Kondisi pasar keuangan global pun masih rapuh dengan semakin banyaknya laporan kerugian lembaga keuangan dunia. Memburuknya kondisi pasar keuangan global menimbulkan kembali sentimen negatif terhadap negara-negara di emerging market yang masih berpotensi menekan perekonomian sejumlah negara. Termasuk Indonesia. Oleh karena itu. BI pun tidak berani menjamin penurunan BI rate akan berdampak langsung terhadap penurunan suku bunga kredit bank. Padahal, secara teoritis, ketika suku bunga acuan diturunkan, seharusnya bunga kredit pun turun. Hal itu bisa berdampak nyata pada perekonomian Indonesia, melalui pergerakan di sektor riil. Krisis keuangan global yang dipicu oleh akumulasi kredit macet sektor perumahan di Amerika Serikat pada pertengahan 2007 menyebabkan investor asing menarik modal nya dari Indonesia secara besar-besaran dengan tujuan deleveraging.
Penarikan modal tersebut mengakibatkan ketatnya likuiditas di perbankannasional, yang terlihat sejak Januari hingga September 2008, di manajumlah dana pihak ketiga (DPK) dalam bentuk giro, tabungan, dandeposito, relatif tidak bertambah, bahkan cenderung turun. Perbankanjuga mengkhawatirkan memburuknya statistik rasio simpanan dibandingkanpinjaman (loan deposit rae TDR) atau kredit bermasalah (Non PerformingLoan/NPL). Dengan demikian, perbankan berusaha menarik minat paranasabah dengan menaikkan suku bunga deposito secara agresif, hinggaterjadilah perang suku bunga di dalamnya. Tentu saja perang suku bungaakan menguntungkan perbankan besar yang memiliki reputasi baik dandipercaya masyarakat dalam mengumpulkan dana, seperti bank badan usahamffik negara (BUMN). Selain dalam dunia perbankan, krisis global punmengakibatkan perekonomian Indonesia mulai melambat Hal itu terlihatdari anjloknya nilai ekspor Januari sebesar -36% dibanding Januari 2008dan penurunan investasi yang masuk ke Indonesia menjadi hanya sekitar10-11% pada 2009. Gejolak di pasar uang mengakibatkan semakin lemahnyapertumbuhan ekonomi Indonesia. BL bahkan memperkirakan perekonomian3009 tumbuh hanya sekitar 4* dengan risiko ikutannya yang cukup besar,apalagi bQa pertumbuhan ekonomi global terus memburuk lebih dari yangdiperkirakan. Indikasi perlambatan perekonomian ini juga tercermin darimelambatnya konsumsi rumah tangga dengan turunnya daya beli masyarakat.Hal ini. pada gilirannya, akan mengurangi tekanan inflasi denganperkiraan mendekati batas bawah kisaran 5-7%. Kredit Harus Turun Sebagai acuan perbankan, penurunan BI rate mestinya diikuti pula olehpenurunan suku bunga kredit Meski peluang usai penurunan tingkat sukubunga acuan cukup besar, temyata bank-bank masih memiliki beban biaya(cost of Amd) yang cukup tinggi. Hal itu terlihat dari tingginya bungadeposito hingga 125%. Harus kita akui bahwa efisiensi perbankan kitamasih rendah. Perbankan nasional hanya mengandalkan dana pihak ketiga(DPK) sebagai biaya hidupnya. Tapi, di manakah peranan perbankan kitadalam meng-gulirkan aktivitas perekonomian? Jika bank tidak memberikankredit akan sulit bagi masyarakat untuk melakukan aktivitasperekonomian, seperti kredit rumah dan mobil. Karena itu. saatnyapenurunan suku bunga kredit secara signifikan harus segera dilakukanagar memberikan dampak yang besar pertumbuhan ekonomi yang sedangmelambat Perbankan sebaiknya bergerak cepat dan jangan menunda-nunda lagi dalammenurunkan suku bunga kreditnya. Sudah beberapa kas suku bunga acuanditurunkan, tapi bunga kredit tetap tak beranjak. Penurunan bungakredit ini penting, karena yang pertama merasakan dampak terbesar dariperlambatan pertumbuhan ekonomi adalah sektor perbankan, diikuti sektorkonstruksi serta sektor lainnya. Penghimpunan dana yang dilakukan olehperbankan sudah sewajarnya disalurkan ke kegiatan-kegiatan perekonomianagar bermanfaat dan akan menambah beban biaya, bahkan bisa menggerusmodal dan setiap bank. Karena itu, penurunan BI rate menjadi 7.75%harus segera disikapi oleh perbankan dengan menurunkan bunga kreditnyamenjadi 12% untuk bank swasta nasional sedangkan bank pemerintah bisaturunkan bunga kreditnya menjadi 10%. Dunia perbankan nasional tentusangat pesimistis dengan prospek perekonomian Indonesia yang belummenentu akibat krisis keuangan global yang makin parah. Karena itu,perbankan akhirnya hanya menyalurkan kredit secara sangat terbatas danselektif ke sektor tertentu dengan tujuan menghindari risiko. Langkah seperti itu dapat kita pahami. Namun, jika pesimisme akankondisi perekonomian global dan nasional membuat perbankan mengambilsikap konservatif, betapa matangnya nasib BI rate sebagai suku bungaacuan. Sebagai penunjuk arah suku bunga. BI rate mestinya mampumenggiring dan memimpin penurunan suku bunga bank. Sayangnya, itu tidakterjadi. BI rate, oh nasibmu BI rate. |











