| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 694078| Suku Bunga Kredit Perbankan Belum Turun Signifikan |
|
|
| Wednesday, 11 March 2009 | |
|
TURUNNYA suku bunga acuan BI rate sebesar 1,5% sejak Januari direspons lambat oleh perbankan. Hal tersebut tampak dari data Bank Indonesia (BI) selama tiga bulan, yakni sejak akhir Desember 2008 sampai minggu kedua Maret 2009. Pada periode itu suku bunga kredit baru turun 0,05%. Padahal, sejak Januari 2009, BI rate sudah turun 1,5%. Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Halim Alamsyah mengatakan hal itu di Departemen Keuangan, Jakarta, kemarin. Ia memaparkan berdasarkan data BI, secara industri pada akhir Desember 2008 suku bunga kredit sebesar 14,2%. Sementara itu, pada minggu kedua Maret 2009 posisi suku bunga kredit sebesar 13,93% atau turun 0,27%. Di lain pihak, suku bunga deposito, pada akhir Desember 2008, untuk jangka waktu satu bulan besarnya 8,75%. Adapun saat ini suku bunga deposito jangka waktu satu bulan sebesar 8,32% atau turun 0,43%. Halim melanjutkan, masih tingginya suku bunga antara lain dipengaruhi jangka waktu jatuh tempo dana simpanan dan komposisinya.
Selain itu, tertahannya suku bunga karena adanya permintaan nasabahatau karena kurangnya likuiditas di bank. Tetapi, ia mengakuipenyesuaian ringkat suku bunga biasanya terjadi 3-6 bulan setelah BImenurunkan suku bunga acuannya. Di tempat yang sama, Deputi GubernurSenior BI Miranda S Goeltom mengatakan saat ini masih ada ruang untukmenurunkan suku bunga BI rate dari posisi saat ini, 7,75%. Hal tersebutberdasarkan tingkat inflasi jangka menengah yang diperkirakan juga akanturun. Namun, menurutnya, penurunan BI rate harus diikuti berbagaipersuasi agar penyaluran kredit bisa berjalan. Pasalnya, pemberiankredit adalah masalah kepercayaan. Karena banyak ketidakpastian global,sikap dari para bankir agak berhati-hati. Untuk itu, BI akan aktifberbicara dengan bankir untuk memberi masukan serta data terakhir yangdiperlukan. BI juga akan meyakinkan para bankir bahwa ekonomi Indonesiasebetulnya masih baik jika dibandingkan dengan negara sekitar di AsiaTenggara. "Hampir semua sekarang on negative territory. Hanya kita yangmasih positif." Cashflow Sementara itu, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) berharappenurunan kembali suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) ke level7,75% segera diikuti penurunan suku bunga pinjaman bank. Dengan begitu,cashflow perusahaan bisa terjaga sehingga mampu bertahan dari tekanankrisis ekonomi yang tengah berlangsung. "Kita berharap bank pemerintahturun ke 11%, sedangkan bank swasta turun ke 14%," kata Ketua UmumHipmi Erwin Aksa, kemarin. Menurut Erwin, saat ini, perbankan sangatselektif dalam mengucurkan kredit. Mereka sangat ketat melihatsektornya, siapa yang membiayai, dan tidak berani memberikan kreditdalam jumlah besar. Hal itu ditambah dengan pengenaan bunga kredit yangtinggi. "Kalau bank swasta biasanya antara 16% dan 17%. Bank pemerintah12%-13%. Bervariasi tergantung banknya," jelas dia. Untuk itu, Erwin menyarankan kepada bank agar bersikap efisien.Misalnya, efisien dalam mencari pembiayaan bagi deposito atau giro.Perbankan juga perlu melakukan efisiensi secara organisasi. Erwinsecara khusus juga menyoroti perang bonus yang gencar dilakukan bankuntuk menggaet dana masyarakat. Menurutnya, bonus terlalu besar justruakan menyebabkan biaya tinggi di struktur biaya perbankan. Bank jugasebaiknya lebih efisien dalam mencari sumber dana murah. "Kami berharapmereka segera mengurangi persaingan pemberian bonus-bonus besarantarmereka sehingga biaya bisa ditekan." Ketika menanggapi keluhantersebut, bankir mengatakan lambannya penurunan suku bunga kreditantara lain karena masih sulitnya bank menurunkan suku bunga deposito."Suku bunga deposito dari bank-bank asing masih tinggi. Akibatnya,sulit bagi kami menurunkan suku bunga kredit, mengikuti BI rate," kataPresiden Direktur Bank Kesawan Dinno Indiano di Jakarta, kemarin.(Uud/ This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it ) |











