| Beranda |
| Tentang Kami |
| Unit Usaha |
| Sumber Daya Manusia |
| Tanggung Jawab Sosial |
| Berita |
| Peta Situs |
| Hubungi Kami |
| Pencarian |
| Karir |
Statistics
Pengunjung: 1220356| Pemerintah Minta KUR Segera Disalurkan |
|
|
| Wednesday, 11 March 2009 | |
|
JAKARTA - Pemerintah meminta perbankan segera menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 20 triliun tahun ini bagi pengusaha mikro, kecil, dan menengah. Kredit yang disalurkan tahun ini lebih besar dibanding tahun lalu sebesar Rp 14 triliun, yang mampu menyerap 1,7 juta pengusaha mikro, kecil, dan menengah. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie mengatakan, jika kredit tahun lalu dan tahun ini digabung, jumlahnya mencapai Rp 33 triliun. Dana ini berputar di kalangan pengusaha kecil dan menengah. "Kredit ini bisa dimanfaatkan oleh pengusaha di daerah," kata Aburizal dalam pertemuan dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Jakarta pada Senin malam lalu. Menurut Aburizal, pengusaha skala kecil dan menengah bisa memanfaatkan pinjaman maksimal Rp 500 juta tanpa jaminan. Mereka diharapkan membuat terobosan, seperti membentuk kemitraan dengan pengusaha-pengusaha lain agar berkembang menjadi pengusaha besar. Terobosan ini dinilai penting dalam menghadapi situasi sulit seperti sekarang. Aburizal mengatakan krisis ekonomi global menyebabkan banyak sektor usaha terpengaruh, terutama yang berorientasi ekspor. Krisis juga mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan, terutama perusahaan yang punya kewajiban mengembalikan pinjaman kredit dari perbankan. Dia berharap kredit usaha rakyat ini bisa membantu usaha mikro, kecil, dan menengah. Sementara itu, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Erwin Aksa mengatakan tidak semua sektor usaha terpukul krisis. Karena itu, industri perbankan diharapkan memiliki pandangan mikro untuk menilai sektor usaha yang layak mendapat pinjaman, seperti usaha kecil dan menengah, "Jangan semua dipukul rata," katanya. Erwin mengatakan pengusaha kecil-menengah di sektor pertanian, properti, industri kreatif, dan usaha, yang kebutuhan domestiknya besar, masih layak mendapatkan kredit. Dia mencontohkan pengusaha minyak kelapa sawit, karet, dan kopi, yang tidak mengalami kerugian besar. Yang terjadi hanya keun-tungan mereka menipis karena anjloknya harga komoditas. Sedangkan sektor properti dan konstruksi dinilai bisa berkembang di tengah krisis karena banyaknya proyek infrastruktur dan rumah susun pemerintah. Karena itu, dia berharap pemerintah turun tangan membuka akses pinjaman perbankan bagi usaha skala kecil dan menengah. Sejauh ini pinjaman untuk pengembangan usaha biasanya sulit. "Pinjaman lebih mudah turun untuk perusahaan korporasi," katanya. Dia mencontohkan, pinjaman untuk perusahaan besar dan korporasi mencapai Rp 1-2 triliun. Padahal, dengan jumlah yang sama, pinjaman itu bisa mencakup 300 ribu usaha skala kecil dan menengah. Mereka berperan besar menggerakkan roda perekonomian di tengah krisis ekonomi. Di sisi lain, Erwin meminta pengusaha skala kecil dan menengah membenahi diri dalam hal dokumentasi dan laporan keuangan agar perbankan bisa melihat kredibilitas usaha. "Ini tantangan bagi usaha kecil-menengah agar bisa berkembang dan berekspansi," ujarnya. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia berharap suku bunga kredit turun seiring dengan penurunan suku bunga Bank Indonesia hingga menjadi 7,75 persen. Idealnya, kata dia, bank pemerintah bisa menurunkan bunga hingga menjadi 11-12 persen dan bank swasta menjadi 14-15 persen. Muwarman
|











