| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 694086| Qatar Siap Investasi US$ 1 Miliar |
|
|
| Wednesday, 11 March 2009 | |
|
JAKARTA - Qatar Investment Authority (QIA) segera merealisasikan investasi di Indonesia senilai US$ 1 miliar (Rp 12 triliun) pada kuartal II-2009. "Mudah-mudahan tidak sampai molor ke semester II," kata Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Qatar Rozy Munir kepada Investor Daily, di Jakarta belum lama ini. Guna mendorong percepatan investasi itu, Emir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa aKTsani menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Mei 2009. "Qatar berharap surat perjanjian usaha yang diteken kedua pemerintah diratifikasi oleh Presiden, tapi di Indonesia tidak dikenal ratifikasi Presiden," kata Rozy Munir. Sebelumnya, Indonesia menandatangani perjanjian usaha patungan dengan QIA, yakni 15% RI dan 85% QIA. Usaha itu bergerak di bidang investasi senilai US$ 1 miliar. Perusahaan itu membidik berbagai sektor, seperti pertanian, industri kimia, dan sektor keuangan. Sejak nota kesepahaman diteken pada 2007, rencana investasi itu terbentur urusan birokrasi di Indonesia dan tarik-ulur ketentuan komposisi manajemen kedua pihak. Qatar akhirnya tidak keberatan bila ratifikasi cukup disahkan setingkat menteri, yakni Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. "Ratifikasi itu sedang digodok dan diharapkan segera tuntas," kata Rozy Munir. Ia menjelaskan, QIA tidak ingin rencana investasinya di Indonesia molor lagi. Keseriusan perusahaan investasi Qatar itu terlihat dari rencana kunjungan Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani. Rencananya, Emir Qatar itu akan bertemu Presiden SBY guna mendorong percepatan investasi dan pembukaan kantor cabang beberapa perusahaan papan atas Qatar di Indonesia. "Sekarang dibuka kantor cabang Qatar Petro Chemical di Indonesia. Nanti juga akan buka pabrik petrokimia," kata Rozy. Perusahaan minyak Qatar Petroleum membuka kantor di Jakarta karena Indonesia merupakan salah satu pelanggan terbesar minyak dari Timur Tengah.
Tak Paham Menurut Rozy, Qatar sebenarnya sangat terkesan dengan sumber daya alamdi Indonesia. Namun, rata-rata pengusaha Qatar tidak terlalu memahamiIndonesia karena kurangnya promosi dibandingkan Malaysia. Hal senadadiungkapkan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) ErwinAksa dan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Minuman Indonesia(Gapmmi) Thomas Darmawan. Realisasi investasi terganjal olehketidakpastian hukum, kenyamanan berusaha, dan ketidaksiapan Indonesia.Hal yang paling memberatkan, pengusaha asing-masih menjadibulan-bulanan birokrasi Indonesia yang dinilai masih terlalumenyulitkan. "Mereka mau masuk tapi izinnya kelamaan," kata Rozy.Selain itu, regulasi di Indonesia juga masih terlalu ribet, terutamasektor telekomunikasi yang diwarnai perubuhan menara dan tumpang-tindihkewenangan di daerah dan pusat "Contohnya kasus akuisisi saham PTIndosat oleh Qatar Telecom memakan waktu lama," ujar dia. Menurut RozyMunir, investor Qatar sangat meminati proyek-proyek pertanian. Namun,dalam banyak hal Indonesia selalu terlambat dibandingkan Thialand,Vietnam, Malaysia, dan India. Dia mencontohkan, produk buah-buahan asalIndonesia sangat diminati masyarakat Qatar. Negeri itu juga berminatberinvestasi di industri penjualan kertas. Namun, kertas Indonesiamasuk ke Qatar melalui Hong Kong dan Dubai. "Mereka maunya langsung,"tandas Rozy. Indonesia juga berpeluang mengguyur pasar furnitur dankeramik Qatar dengan produk lokal. Hadapi Masalah Erwin Aksa menjelaskan, investor asing selalu menghadapi kendalaterkait gejolak keamanan dan konflik sosial. Untuk itu, pemerintahharus berupaya keras mengeliminasi konflik-konflik di daerah yangmuncul akibat iklim politik pemilihan kepala daerah (pilkada).Indonesia juga sering tidak siap menerima kehadiran investor asing dantidak mampu menjalankan proyek yang ditawarkan. Di sisi lain, munculmasalah ketidakpastian hukum. "Sementara itu. karakteristik beberapadari proyek-proyek yang ditawarkan ada yang tidak sabaran dan hanya mauyang cepatnya saja," kata Erwin kepada Investor Daily /Jakarta, Jumatmalam (6/3). Thomas Darmawan menjelaskan, permasalahan mendasar dalampembenahan iklim investasi di dalam negeri adalah konsistensi kebijakanpemerintah. |











