| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 1219272| Penurunan Bunga Kredit Lambat |
|
|
| Thursday, 12 March 2009 | |
|
OLEH YUSUF WALUYO JATI IRSAD SATI Bisnis Indonesia
JAKARTA Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai perbankanterlalu lambat menurunkan suku bunga kredit dalam merespons penurunan BI Rate yang kini mencapai 7,75%. Kepala Negara menegaskan dalam batas tertentu bisa memahami lambatnya respons perbankan terhadap penurunan BI Rate. Namun, hal itu tidak boleh berlangsung terlalu lama, karena dunia usaha dan sektor riil membutuhkan penurunan bunga kredit. "BI Rate telah diturunkan dalam jumlah yang tepat, perbankan seharusnya bisa mengikuti. Bank jangan hanya berorientasi ke dalam, tetapi juga ke luar, sehingga maksud kebijakan BI bisa diikuti oleh jajaran bank dan membawa manfaat untuk sesama," tuturnya saat membuka sidang dewan pleno I Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), kemarin. Ketua Umum BPP Hipmi Erwin Aksa, yang berpidato sebelum Presiden, juga mendesak perbankan agar cepat menurunkan suku bunga mengikuti kebijakan penurunan BI Rate. Menurut dia, perbankan harus menciptakan keselarasan antara niat baik dari otoritas moneter dan implementasi untuk menggerakkan sektor. BI minta komitmen perbankan pangkas bunga riil. "Kami pengusahatidak mengharapkan sesuatu berlebihan. Perbankan tidak harus menurunkansuku bunga kredit di luar batas kemampuannya. Tapi harus adakeselarasan antara kebijakan moneter dan perbankan untuk meringankanbeban pengusaha," tutur Erwin. Kendati BI Rate sudah menyentuh 7,75%,penurunan suku bunga kredit hanya 0,05% sejak awal tahun ini. Secaraumum, suku bunga kredit pada akhir Desember 2008 mencapai 14,2% danpada pekan kedua Maret 2009 turun tipis menjadi 13,93%. Sementara itu,untuk rata-rata suku bunga deposito 1 bulan turun dari 8,75% padaDesember 2008 menjadi 8,32%. Untuk bank milik pemerintah, kata Erwin,tingkat suku bunga kredit pada penghujung tahun lalu mencapai 12,95%,kemudian turun menjadi 12,72% pada pekan kedua bulan ini. Sementaraitu, bunga kredit perbankan swasta pada periode yang sama turun dari15,73% menjadi 15,53%. "Memang masih pelan, tapi biasanya [penyesuaian]3-6 bulan. Tiap bank berbeda secara industri, kita lihat cenderungturun. Setiap bank harus dilihat struktur atau komposisi DPK (danapihak ketiga]-nya. Ada yang bisa cepat, tapi ada yang tidak," jelasHalim Alamsayah, Direktur Direktorat Penelitian dan PengaturanPerbankan, Bank Indonesia. Panggil perbankan Tadi malam,secara mendadak jajaran pejabat Bank Indonesia (BI) memanggil direksi15 bank papan atas untuk meminta komitmen penurunan bunga kredit,setelah Presiden mendesak pemangkasan bunga kredit. "Pertemuan mendadakdilakukan setelah Presiden meminta bunga kredit segera diturunkan, danPresiden besok mau mengadakan rapat kabinet untuk membahas masalahini," ungkap salah seorang eksekutif perbankan. Saat dimintaiketerangan, baik melalui SMS maupun telepon. Deputi Gubernur BIMuliaman D. Hadad dan Siti Ch. Fadjrijah tidak memberikan jawaban ataspertemuan ini. Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Miranda SwarayGoeltoem menjelaskan BI tengah mengadakan pembicaraan dengan kalanganperbankan guna mempercepat penurunan suku bungayang mengacu pada posisiterakhir BI Rate. Dengan begitu, diharapkan upaya ini dapat memberikanpengaruh positif terhadap perekonomian secara luas. Beberapa bank,ujarnya, sudah setuju untuk menurunkan suku bunga, tetapi masihcenderung berhati-hati. "Mereka ingin turunkan bunga, tapi tetapberhati-hati dengan kondisi seperti ini.". Di sisi lain, Mirandamenyatakan BI terus mengamati kondisi perekonomian, sehingga jika lajuinflasi jangka menengah mengalami penurunan, peluang penurunan kembaliBI Rate tetap terbuka. Namun, penurunan BI Rate harus diikuti olehpersuasi atau berbagai aturan agar penurunan suku bunga kredit bisasegera terlaksana. Ketua Umum Kadin Indonesia MS. Hidayat secara tegasmengatakan kecewa dengan sikap perbankan yang masih mencari keuntungandari permainan bunga. Kondisi ini menyebabkan tingkat suku bunga kredittidak segera turun, kendati otoritas moneter telah beberapa kalimenurunkan BI Rate. Dia menegaskan dana segar yang seharusnya dapatmenggerakkan sektor riil justru ditempatkan di SBI (Sertifikat BankIndonesia) untuk mendapatkan keuntungan. "Ironisnya, keuntunganbunga SBI itu didapatkan juga dari APBN. Pada sisi lain, bankmenyalurkan kredit dengan bunga tinggi. Kalau bunga diturunkan, mereka[perbankan] akan rugi. Inilah lingkaran setannya. Lingkaran ini harussegera diputus," tutur Hidayat. Sebagian besar bank, lanjut Hidayat,sebenarnya memiliki likuiditas cukup baik. Namun, bank menetapkan sukubunga tinggi dan cenderung menahan penyaluran kredit ke sektor riildengan alasan risiko kredit macet saat ini cukup tinggi. "Kalau sukubunganya sampai 16%-18%, swasta tentu tidak akan berani ambil [kredit).Saya kira dibutuhkan terobosan bank sentral [BI] dan perbankan untukmenyiasati kondisi ini. Kalau masing-masing memegang kepentingannyasendiri, sektor riil tidak bisa akan jalan," tegasnya. Terobosan yangdimaksud Hidayat adalah perlunya menyusun sektor-sektor usaha prioritasuntuk memperoleh kredit. "Upaya ini bisa menekan risiko kredit."(n/15/16/17) (yusuf, This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it id/ This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it ) |











