| Beranda |
| Tentang Kami |
| Unit Usaha |
| Sumber Daya Manusia |
| Tanggung Jawab Sosial |
| Berita |
| Peta Situs |
| Hubungi Kami |
| Pencarian |
| Karir |
Statistics
Pengunjung: 1293205| Konsumsi Semen Terpangkas 2,5% |
|
|
| Monday, 23 March 2009 | |
|
Oleh Harco Kurniawan JAKARTA - Realisasi konsumsi semen domestik sepanjang Februari 2009 terpangkas 2,5% menjadi 2,63 juta ton dibanding Februari 2008, sebanyak 2,7 juta ton. Penurunan konsumsi disebabkan tidak adanya pembangunan proyek properti baru yang digalang sejumlah pengembang, menyusul pengetatan kredit perbankan. Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Timuryono menegaskan, krisis finansial global membuat likuiditas di industri perbankan nasional menipis. Buntutnya, pengucuran kredit untuk sektor properti berkurang, sehingga pengembang tidak memiliki modal untuk mengerjakan proyek baru. Hal ini membuat penjualan semen mengalami kontraksi. "Kami belum merasakan dampak dari penurunan BI rate menjadi 7,75%. Bank belum menyambut penurunan ini dengan menurunkan bunga kredit Perbankan masih enggan mengucurkan kredit ke sektor riil," papar Urip ketika dikonfirmasi di Jakarta, akhir pekan lalu. Ia melanjutkan, pebisnis semen juga belum merasakan efek dari stimulus infrastruktur yang dijanjikan pemerintah Rp 12,2 triliun. Urip menduga efek dari stimulus ini baru terasa mulai Mei tahun ini. Selama ini pasar semen nasional didorong oleh proyek-proyek properti dan proyek infrastruktur pemerintah. Urip menuturkan, manuver pebisnis toko bahan bangunan yang mengurangi order juga menjadi penyebab penurunan konsumsi. Pebisnis toko bangunan menempuh langkah ini untuk mengantisipasi momentum pemilu. Mereka khawatir simpatisanpartai politik (parpol) yang kalah membuat kekacauan dengan menjarah toko-toko di pinggir jalan, salah satunya toko bangunan. Koreksi stok di sejumlah toko bangunan, ujar Urip, menyebabkan stok semen menumpuk di silo (gudang penyimpanan semen di pabrik). Dia mencatat, total stok yang ditimbun di silo setara dengan dua minggu konsumsi semen atau sekitar 1,4 juta ton dari posisi normal sebesar 0,7juta ton (seminggu). "Semen yang disimpan di silo dapat tahan selama setahun karena belum dimasukkan ke kantung. Produsen memilih langkah ini guna meresponsberkurangnya order dari toko bangunan," jelas Urip. Berdasarkan data ASI, konsumsi semen domestik sepanjang Januari-Februari 2008 menurun 3,5% menjadi 5,5 juta ton dibanding periode sama tahun lalu sebesar 5,7 juta ton. Urip memperkirakan level pertumbuhan ini akan bertahan hingga triwulan pertama tahun ini. ASI memprediksi total konsumsi semen sepanjang tahun ini bakalan stagnan dibanding 2008 sebanyak 38,08 juta ton. Direktur Utama PT Semen Gresik (SG) Tbk Dwi Soetjipto di sela rapat umum pemegang saham (RUPS) SG beberapa waktu lalu menyatakan, konsumsi semen domestik masih memiliki ruang pertumbuhan, seiring adanya stimulus infrastruktur pemerintah. "Domestik masih ada room, seiring kebijakan pemerintah untuk melakukan stimulus, misalnya di proyek-proyek perumahan," papar Dwi.
Ekspor Terjun Bebas Sementara itu, ekspor semen nasional Januari-Februari 2009 melorot 60% menjadi hanya 300 ribu ton dibanding periode sama tahun lalu sebesar 754.109 ton. Saat ini pasar semen global tengah melemah seiring krisis ekonomi global. "Selain itu Indonesia juga mendapat banyak saingan di pasar ekspor," ujar Urip. Secara terpisah. Corporate Communication Manager PT Holcim Indonesia Tbk Budi Primawan menuturkan, pihaknya tidak serius menggarap pasar ekspor. "Ekspor kami kecil. Fokus kami justru ke pasar domestik," tutur dia, pekan lalu. Urip memperkirakan ekspor semen tahun ini hanya akan menyentuh 1,8 juta ton, anjlok 64% dibanding 2008 sebesar 5 juta ton. Dengan demikian total penjualan semen baik domestik maupun ekspor tahun ini turun 7% menjadi 40 juta ton dibanding 2008 sebesar 43 juta ton. (ed) |











