| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 1219253| Kartel Semen Rugikan Rakyat |
|
|
| Monday, 23 March 2009 | |
|
Di tengah hingar-bingar kampanye pemilu dan gonjang-ganjing ekonomi dunia, diam-diam harga semen di pasar domestik terus merangkak naik. Jika tahun lalu, harga semen di Jabodetabek masih sekitar Rp 40.000, kini sudah di atas Rp 45.000 per zak (50 kg). Setiap tahun ada kenaikan sekitar Rp 1.000 per zak. Di luar Jawa, lonjakan harga semen lebih ganas. Di Papua, harga semen menembus Rp 100.000 per zak. Di banyak wilayah di luar Jawa, termasuk di Sumatera dan Kalimantan, harga semen juga naik dari bulan ke bulan. Dari persentase, kenaikan per bulan tidak besar karena kenaikan nominal sekitar Rp 1.900 per zak. Namun, jika diakumulasi selama setahun, kenaikan harga semen itu lumayan juga, yakni sekitar 20%, jauh di atas rata-rata inflasi. Yang mencengangkan, harga semen yang diekspor dijual lebih murah dibanding yang dipasarkan ke dalam negeri. Jangankan pada masa krisis ekonomi seperti ini, pada masa ekonomi normal pun, harga semen di dalam negeri harus lebih murah dibanding harga ekspor. Lebih mencengangkan lagi, harga semen di Eropa pun lebih murah dari Indonesia. Harga semen dalam negeri yang terus melambung membuat kita tak habis pikir. Indonesia, negeri yang memiliki bahan baku semen berlimpah, membayar tenaga kerja jauh lebih murah dibanding negara maju, menghasilkan produk yang pasti lebih murah dibanding negara maju, harus membayar lebih mahal harga semen buatannya sendiri. Tidakkah para produsen semen itu tahu bahwa daya beli rakyat Indonesia tergolong rendah dan kini menurun akibat krisis ekonomi? Bukankah mereka juga paham bahwa masih ada separuh penduduk Indonesia yang tidak memiliki rumah layak huni? Tahukah para produsen semen itu bahwa sekitar 14 juta atau 26% keluarga Indonesia tinggal di rumah tak layak huni? Semen mendominasi biaya pembuatan rumah permanen. Fondasi, lantai, dan tembok rumah terbuat dari semen. Sebagian orang membuat atap rumah dari semen. Pada rumah bertingkat, kebutuhan semen lebih mahal lagi. Semen juga digunakan untuk membuat jalan dan berbagai pembangunan infrastruktur lainnya. Rakyat kecil sangat terpukul oleh kenaikan harga semen. Untuk sekadarmemiliki rumah, mereka menghemat penggunaan semen. Asal punya rumah sendiri, mereka tidak peduli lagi kualitas rumah. Sedikit saja ada gempa, berkekuatan di bawah 5 skala Richter pun, rumah penduduk sudah rata dengan tanah. Itulah yang terjadi dengan rumah penduduk Yogyakarta dan sekitarnya pada gempa dua tahun lalu. Kenaikan harga semen memukul semua pihak, mulai dari penduduk miskin, pengembang besar hingga pengembang kedL Tidak ada yang salah dengan kenaikan harga barang selama itu wajar. Tapi, pada kenaikan harga semen, kita melihat ketidakwajarait Produsen semen bisa menjual semen ke luar negeri dengan harga lebih murah dibanding harga dlaam negeri karena mereka memiliki kekuatan yang tidak bisa dikontrol. Kekuatan itu adalah monopoli dan kartel. Data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menunjukkan, tiga produsen semen besar menguasai 89% pasar semen Indonesia. Ketiganya adalah Semen Gresik Group (43,7%), Indocement 31,6%, dan Holcim Indonesia 14,1%, Di Jawa, Gresik menguasai 403%, Indocement 37,7%, dan Hokam 20,7%. Jika ketiganya membentuk kartel, kekuatan mereka mencapai 99%. Lebih dari cukup untuk mendikte pasar. Di luar Jawa, Semen Gresik Group (melalui Semen Tonasa dan Semen Padang) menguasai 51,4%, Indocement 21%. dan Andalas 9,2% Bila tiga produsen ini bergabung atau membentuk kartel, pangsa pasar mereka mencapai 78%. Dari berbagai informasi yang dihimpun harian ini, kita berkesimpulan bahwa kartel sudah terjadi di pasar semen Indonesia. Kita khawatir, keberpihakan pada rakyat yang tinggal di rumah tidak layak dan pembangunan ekonomi nasional dikalahkah oleh kepentingan bisnis individu perusahaan semen. Apalagi tiga produsen semen besar dikuasai oleh asing. Heidelberg dari Jerman menguasai 65,14% saham Indocement, Holcim memiliki 77,3% saham Holcim Indonesia (dahulu Semen Cibinong), dan Lafarge dari Perancis menguasai Andalas. Peta pasar semen di Indonesia sudah jelas melanggar pasal 4 ayat (2) UU No 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Beberapa perusahaan menguasai lebih dari 75% pasar semen di suatu wilayah. Tahun lalu, laba bersih Gresik, Indocement, dan Holcim melesat di atas 40%. Pemerintah tidak boleh membiarkan kartel yang merugikan rakyat ini terus berlangsung. |











