| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 695740| Harga Semen RI Termahal |
|
|
| Tuesday, 24 March 2009 | |
|
JAKARTA - Gejolak harga semen di Indonesia belakangan ini mulai menekan bisnis properti, infrastruktur, maupun perumahan masyarakat. Terlebih lagi, harga semen di negeri ini tergolong mahal ketimbang negara lain seperti Tiongkok, Malaysia, dan India. Saat ini, harga semen di Pulau Jawa rata-rata US$ 100 per ton atau Rp 55 ribu per zak (50 kg). Sementara itu, harga semen di Beijing, Tiongkok, rata-rata hanya US$ 59,5 per ton dan Mumbai. India sekitar US$ 95 per ton. Melihat tingginya harga semen itu, para pengembang mengakui dilematis karena 40% biaya produksi perumahan untuk belanja semen. Lonjakan harga semen ini dikhawatirkan juga mengancam proyek-proyek infrastruktur yang diharapkan menjadi lokomotif ekonomi di tengah krisis saat ini. Sela ma ini, harga semen menjadi parameter harga bahan bangunan lain seperti besi, baja, pasir, dan beton. Demikian rangkuman pendapat yang dihimpun Investor Daily Aan Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Teguh Satria, Dirut PT Sarana Surya Kencana Adri Istambul, Marketing Manager PT Ciputra Surya Tbk Agung Krisbimandoko. Manajer Pengembangan Bisnis PT Adhi Realty Renny Sovia-hani, dan Ketua Umum Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) Malkan Amin. Berdasarkan data REI, harga semen di Indonesia mencapai USS 91-100 per ton. Padahal, harga rata-rata semen di negara-negara Iain seperti Amerika Serikat dan Eropa hanya berkisar US$ 75-80 per ton. "Padahal, kenaikan harga semen sebelumnya dipicu oleh tingginya harga minyak. Kini, setelah harga minyak anjlok, harga semen justru meroket. Yang jelas, saat ini harga semen di Indonesia paling mahal di dunia," ujar Teguh Satria.
Sulit Turun Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) UripTimuryono menyatakan, harga semen saat ini belum dapat turun karena harga batubara belum turun sedalam minyak mentah. Saat ini, harga batubara masih sekitar US$ 60 per ton dibanding tahun lalu sebesar US$ 70 per ton. Sementara itu, harga minyak mentah hanya US$ 50 per barel dari posisi tertinggi US$ 147 per barel. Meski begitu, menurut Urip, produsen semen kemungkinan tidak menaikkan harga jual pada tahun ini menyusul melemahnya permintaan. Berdasarkan data ASI, pasar semen nasional per Februari 2008 terpangkas 3,2% menjadi 5,6 juta ton dibanding periode sama tahun lalu sebesar 5,7 juta ton. "Sepanjang tahun lalu harga semen naik rata-rata sekitar 10%." jelas dia. Urip mengakui, harga semen untuk pasar domestik lebih tinggi ketimbang pasar ekspor. Selama ini, produsen semen menjadikan pasar ekspor sebagai alternatif untuk melempar sisa produksi yang tidak terserap di pasar domestik. Hal senada diungkapkan Kepala Divisi Komunikasi PT Semen Gresik Tbk (SG Grup) Saefudin Zuhri. Dia sependapat, harga semen belum dapat turun mengingat harga batubara masih tinggi. Saat ini, sekitar 90-99% biaya energi produsen semen digunakan untuk membeli batubara guna membakar killen. Menurut Saefudin, harga semen di pasar domestik saat ini mencapai Rp 50 ribu per zak (50 kg) atau sekitar US$ 100 per ton. Harga semen domestik di tingkat ritel sudah memasukkan margin distributor, biaya pengantongan (bagi, dan transportasi ke toko bangunan. Sementara itu, harga semen ekspor di pelabuhan muat (freight on board/FOB) hanya US$ 50-55 per ton. Namun, harga itu bakal membengkak jika semen sudah mendarat di pelabuhan tujuan karena terdorong oleh ongkos angkut "Ongkos angkut ke Eropa bisa US$ 80 per ton," jelas Saefudin. Saat ini, ekspor semen Indonesia mengarah ke Bangladesh, Srilanka, Afrika, dan Maroko. Semen yang diekspor berbentuk curah. Ekspor semen per Februari 2008 merosot 43% menjadi 426 ribu ton dibanding periode sama 2008 sebanyak 754 ribu ton. Urip dan Saefudin memastikan tidak ada kartel di industri semen nasional. Besaran harga ditentukan oleh mekanisme pasar. Harga semen antarpabrikan yang satu dengan yang lain berbeda-beda. "Di Jawa Barat, harga Semen Gresik lebih murah Rp 750 ketimbang Holcim. Sebaliknya, harga Semen Gresik di Jawa Timur lebih mahal Rp 1.000 ketimbang Holcim," jelas Saefudin. Saefudin menjelaskan, penguasaan pasar semen di masing-masing provinsi berbeda. Di Jawa Timur dan Semarang, Semen Gresik menguasai pasar, sedangkan pasar semen di Jawa Barat dikuasai Indocement dan Sumatera dikuasai Semen Padang. Penetapan harga semen juga dipengaruhi ongkos angkut dan fanatisme konsumen. Konsumen di Jatim dan Sumbar lebih fanatik kepada produk Semen Gresik dan Semen Padang," jelas dia. Meski harga minyak mentah mengalami penurunan, dia menegaskan, harga batubara yang merupakan bahan bakar utama produksi semen masih tetap tinggi. "Jadi sangat sulit kalau kami harus memelopori penurunan harga semen sepanjang harga batubara masih tinggi," terang Saefudin. Margin Makin Tipis Yang pasti, lonjakan harga semen belakangan ini kian menekan bisnis properti. Di tengah menurunnya daya beli, para pengembang tak berani menaikkan harga jual rumah. "Pemerintah harus bisa meredam harga semen bila mengharapkan sektor konstruksi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi," ujar Adri Istambul yang juga Wakil Ketua DPD REI Jatim. Dia menambahkan, lonjakan harga semen pasti akan berpengaruh pada penyelesaian penggarapan. "Dan bisa jadi kontraktor minta eskalasi harga yang sudah disepakati," jelas dia. Agung Krisbimandoko menjelaskan, lonjakan harga semen akan membuat pengembang tidak bisa leluasa untuk membangun proyek karena dipastikan akan meningkatkan biaya pembangunan sekitar 25%. Tidak ada pilihan lain bagi pengembang selain menekan margin keuntungan untuk bisa tetap melanjutkan proyek sesuai rencana," jelas dia. PT Adhi Realty juga merasakan pengaruh kenaikan harga semen terhadap pengembangan properti. Dampak kenaikan harga semen kian terasa dalam dua-tiga bulan ke depan. "Kenaikan harga semen lebih berdampak kepada para kontraktor yang tengah menggarap proyek properti." jelas Renny So-viahani. Melihat dampaknya begitu besar. Ketua Umum LPJKN Malkan Amin meminta pemerintah agar menstabilkan gejolak harga semen belakangan ini. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak kepada proyek- proyek infrastruktur. "Sayaberharap situasi ini perlu ditangani serius oleh pemerintah, sehingga gejolak kenaikan harga semen tidak terlalu tinggi serta menimbulkan beban bagi kontraktor dan proyek infrastruktur bisa stagnan," kata anggota Komisi V DPR itu. Menurut Malkan, pemerintah juga perlu mendesak produsen semen agar tidak melakukan spekulasi untuk menentukan harga semen. Hal ini tentu akan membahayakan pembangunan infrastruktur secara nasional dan juga berdampak kepada kelanjutan usaha kontraktor. "Kita minta pemerintah turun tangan dengan adanya gejolak harga semen ini," kata dia. Malkan menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan harga semen naik. Pertama, faktor bencana alam yang terjadi di beberapa negara, termasuk Indonesia. Kedua, adanya krisis finansial global. Ketiga, akibat perang di sejumlah negara, seperti di Lebanon dan negara lain. Ketika mereka melakukan rehabilitasi, permintaan semen dunia cukup tinggi. Akibat kenaikan harga semen itu, LPJKN akan mengevaluasi dengan seluruh kontraktor dan penyedia jasa konstruksi untuk mencari solusinya, termasuk membicarakan kembali dengan pemerintah. "Sekarang kami sedang mengevaluasi, kalau kerugian itu sangat besar buat kontraktor tentu kami siap berdialog kembali dengan pemerintah mencari jalan tengah," kata dia. Namun demikian, dia mengakui sangat sulit mengevaluasi kembali proyek-proyek yang sudah tandatangan kontrak, terutama kontrak-kontrak yang dibiayai melalui dana APBN. Kepala Badan Pembinaan Konstruksi dan Sumber Daya Manusia (BPKSDM) Departemen Pekerjaan Umum (PU) Sumaryanto Widayatin menilai, gejolak harga semen itu belum memengaruhi stabilitas pembangunan infrastruktur di Indonesia, terutama proyek-proyek yang dikerjakan dengan dana APBN. "Saya kira gejolak itu belum terasa buat kita." katanya. Dia memastikan proyek-proyek infrastruktur yang dikerjakan oleh pemerintah tetap berjalan sesuai target dan tidak boleh ada proyek infrastruktur yang mandek akibat gejolak harga semen ini. "Proyek pemerintah masih tetap berjalan terus, kami sedang menghitung proyek yang menggunakan material semen," jelasnya. |











