| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 1219244| Harga Semen Domestik di Bawah Regional |
|
|
| Wednesday, 25 March 2009 | |
|
OLEH YUSUF WALUYO JATI Bisnis Indonesia JAKARTA Harga semen di pasar domestik dinilai masih cukup kompetitif karena berada di bawah rata-rata harga di kawasan regional. "Dengan kondisi ini, tidak ada alasan bagi produsen untuk menurunkan harga jual," ujar Presiden Direktur PT Semen Gresik (Persero) Tbk Dwi Soetjipto kemarin. Dia menjelaskan harga semen di pasar dalam negeri justru masih jauh di bawah rata-rata harga di Vietnam dan Filipina yang mencapai di atas US$75 per ton. "Iflka-nya, kalau harga semen di dalam negeri tinggi sampai USS 100 per ton, maka semen impor akanmembanjiri pasaran dong, terlebih tarif bea masuknya 0%.". Namun, kata dia, nyatanya semen impor tidak pernah berani masuk ke Indonesia karena kalah kompetitif. Ini merupakan indikator bahwa pasar semen domestik cukup sehat karena volume pasokan dapat dipenuhi produsen lokal dengan level harga sesuai dengan mekanisme pasar," katanya. Direktur Jenderal Industri Agro dan Kimia Depperin Benny Wach-judi menjelaskan harga semen di dalam negeri sulit turun karei\a harga bahan baku berupa batu kapur masih cukup tinggi. Begitu pula dengan harga batu bara untuk proses pembakaran di tungku (kiln) mulai bergerak naik. Selain itu, tarif dasar listrik untuk industri masih tergolong tinggi dibandingkan negara lain, sehingga biaya produksi secara keseluruhan akan membuat level harga semen tinggi. "Harga semen mengikuti mekanisme pasar. Dengan persaingan yang semakin ketat, faktor biaya produksi sangat menentukan harga jual. Mereka [produsen semen] masih akan fight agar harga semen bisa lebih murah dibandingkan para pesaing," jelasnya. Menurut dia, penjualan semen cenderung dilakukan dengan sistem rayonisasi karena jika pemasarannya terlalu jauh dari lokasi pabrik maka ongkos pengiriman menjadi mahal sehingga sulit berkompetisi di pasar. Dia mencontohkan apabila distribusi semen di wilayah Sumatra Utara yang selama ini dipasok oleh PT Semen Padang dan PT Andalas mengalami gangguan, harga semen akan cenderung naik. "Sebenarnya produsen lain bisa saja memasarkan di Sumut tetapi harganya pasti tidak kompetitif dibandingkan dengan Semen Padang dan Andalas. Persaingan di industri semen sangat ketat, sedangkan ekspor itu merupakan pilihan terakhir produsen ketika terjadi penumpukan stok produksi." Sekitar 60% produksi semen nasional, lanjut Benny, diserap oleh berbagai proyek infrastruktur dan properti.
|











