| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 1218962| Tata Niaga Semen Bakal Dirombak |
|
|
| Wednesday, 25 March 2009 | |
|
Oleh Andryanto Suwismo dan Rusmin Efendi JAKARTA - Pemerintah segera merombak tata niaga semen untuk menurunkan harga komoditas tersebut di pasar domestik. Pembenahan tata niaga itu akan mencakup pemangkasan jalur distribusi serta penurunan margin. Menteri Perindustrian Fahmi Idris telah menginstruksikan Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian Benny Wachjudi untuk mengatasi permasalahan mahalnya harga semen di Tanah Air. "Saya diinstruksikan Pak Fahmi untuk membenahi masalah ini," ujar Benny kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (24/3). Mahalnya harga semen di pasar domestik, kata Benny, disebabkan panjangnya rantai distribusi yang berlapis-lapis, yakni distributor, subdistributor, pengecer, baru sampai ke konsumen. "Pemerintah akan memangkas jalur distribusi untuk menekan harga semen di dalam negeri," ucapnya. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu juga berjanji akanmembenahi perdagangan semen. "Kita harus mengidentifikasi terlebih dahulu, faktor apa yang menjadi penyebab kenaikan harga semen di dalam negeri," katanya usai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Jakarta, kemarin. Berdasarkan pantauan Investor Daily, harga semen terus naik dari bulan ke bulan. Meskipun secara nominal kenaikan itu tidak besar, sekitar Rp 1000 per zak, tetapi jika diakumulasi selam?, setahun kenaikan harga semen bisa mencapai 20%, jauh di atas rata-rata inflasi. Padahal, harga BBM telah turun hingga tiga kali. Harga eceran semen kemasan 50 kg produksi Semen Gresik dan Indocement saat ini berkisar Rp 53.000-55.000 per zak. Harga ini lebih tinggi dibanding terakhir kali pemerintah menaikkan harga BBM tahun lalu.
Harga semen di Indonesia tergolong paling mahal di dunia. Saat ini, harga semen di Pulau Jawa rata-rata US$ 100 per ton, sedangkan di Tiongkok rata-rata hanya US$ 59,5 per ton, Malaysia dan AS sekitar US$ 75 per ton. Kalangan DPR RI meminta instansi terkait, seperti Departemen Perdagangan dan Departemen Perindustrian, mengambil langkah-langkah strategis untuk menurunkan harga semen mengingat semen telah menjadi konsumsi publik. Apalagi, proyek infrastruktur mulai dikerjakan April 2009. Jangan sampai tingginya harga semen mengganggu pengerjaan proyek-proyek infrastruktur. Hal itu diungkapkan anggota Komisi V DPR dari FPG Malkan Amin dan anggota Komisi VI DPR dari FPDIP Hasto Kristyanto. Mereka meminta pemerintah bersikap tegas, mengingat ada indikasi kartel yang menyebabkan harga semen sulit turun. Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), pada 2008. tiga produsen besar semen menguasai 89,4% pasar semen, yakni Semen Gresik Group sebesar 43,7%, Indocement 31,6%, dan Holcim Indonesia 14,1%. Bahkan, di Jawa, tiga produsen itu menguasai 98,7% pangsa pasar. Sedangkan di luar Jawa, ketiga produsen papan atas itu mencaplok 78,2% pangsa pasar Intervensi Menurut Benny, intervensi pemerintah perlu dilakukan jika harga semen di tingkat konsumen sudah melonjak tinggi. Berdasarkan pantauan Depperin, harga semen relatif sama di tingkat pabrikan, yakni sekitar Rp 700 ribu per ton. Sedangkan harga semendi tingkat ritel bisa mencapai Rp 1 juta per ton. Selisih yang besar antara harga semen di tingkat produsen dan ritel terjadi karena ongkos di tiga lapisan distributor bisa mencapai Rp 180 ribu per ton atau Rp 9.000 per zak (50 kg). Belum lagi, ongkos transportasi sebesar Rp 2.000 per zak (50 kg). Selain itu, biaya bongkar muat termasuk biaya pikul manual di pelabuhan dan gudang diperkirakan Rp 500 per zak (50 kg). "Kalau di luar negeri kan angkutan semen menggunakan kereta, tapi di sini masih pakai truk yang rentan menemui kongesti (kemacetan) karena jalan yang rusak. Jadi, cost-nya lebih tinggi," ujarnya. Depperin, kata dia, siap mengoordinasikan seluruh pemangku kepentingan untuk membenahi jalur distribusi semen. Harga semen yang murah akan menjadi penting untuk mendukung proyek stimulus infrastruktur pemerintah agar dapat menyerap tenaga kerja secara optimal. Stimulus infrastruktur pemerintah senilai Rp 12.2 triliun akan digunakan untuk membangun jalan raya, pelabuhan laut, pelabuhan udara, irigasi, transmisi, air bersih, pasar, pergudangan, rumah susun sewa, proyek irigasi, dan jalan penunjang sektor pertanian. Proyek infrastruktur tersebut banyak membutuhkan semen dalam jumlah besar. "Program stimulus perlu didukung dengan harga semen yang kompetitif. Karena itu, Depperin siap mengoordinasikan pembenahan masalah ini," ujar Benny. Secara terpisah, Direktur Bina Pasar dan Distribusi Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan (Depdag) Jimmy Bella mengatakan, Depdag masih mengkaji instrumen untuk stabilisasi harga semen, sebab harga ditentukan oleh mekanisme pasar. "Depdag fokus pada ketersediaan stok di pasar. Seharusnya, jika stok lancar harga juga terkendali. Kami akan menunggu hasil penyelidikan KPPU," kata Jimmy kepada Investor Daily. Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Husnah Gustiana Zahir mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti keluhan konsumen, terkait mahalnya harga semen. Tidak tertutup kemungkinan YLKI akan menyoroti masalah ini," ujar Husnah. Minta Diturunkan Malkan Amin dan Hasto Kristyanto meminta harga semen bisa diturunkan, mengingat semen telah menjadi komoditas stategis. "Sekalipun mekanisme penjualan semen tergantung pada mekanisme pasar, bukan tidak mungkin harga bisa diturunkan. Saya kira, instansi terkait seperti Depdag, Deperin dan Menneg BUMN bisa saja mengambil kebijakan untuk mengendalikan harga di pasaran seperti melarang impor atau menaikkan pajak penjualan ke luar negeri," ujar Malkan Amin. Menurut Malkan, sekalipun tidak ada lagi kewajiban pemerintah untuk menstabilkan harga seman, bukan berarti pihak swasta bisa secara bebas me naikkan harga. Apalagi, daya beli kon-sumen sangat rendah sebagai dampak krisis global. "Seharusnya, penurunan harga BBM berdampak pada penurunan ongkos produksi semen. Tetapi, mengapa harga semen justru naik. Ini pasti ada yang tidak beres," katanya. Ia mengingatkan, jangan sampai proyek-proyek infrastruktur yang mulai dikerjakan April ini terhambat karena harga semen terlalu tinggi. Tingginya harga semen menyebabkan biaya proyek menjadi mahal. Sedangkan Hasto Kristyanto menekankan perlunya pemerintah bersifat tegas menghadapi fenomena kartel semen. "Kalau pemerintah tidak bersikap tegas mengatasi praktik kartel ini, bagaimana mungkin bisa mengendalikan harga," kata dia. Apalagi, Komisi Pengawaan Persaingan Usaha (KPPU) sedang mengkaji dugaan terjadinya kartel di industri semen. Menurut dia, ada anomali di pasar semen RI. Secara fundamental, harga semen seharusnya turun mengikuti penurunan harga BBM. Apalagi, produksi semen jauh melebihi tingkat konsumsi. Demikian juga secara psikologis, di tengah lesunya daya beli konsumen harusnya produsen menurunkan harga, bukan sebaliknya. Berdasarkan data ASI, produksi semen 2008 mencapai 39,10 juta ton sedangkan konsumsi sebesar 10.22 juta ton. Kelebihan konsumsi semen diekspor ke berbagai negara. "RI yang sedang membangun membutuhkan banyak semen. Produsen jangan mengambil margin terlalu besar," katanya, (eme/nov) |











