| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 1218984| Sulur Bisnis Menggurita, Semen Masih Primadona |
|
|
| Monday, 31 August 2009 | |
|
By Danto Rochman & Gloria Haraito KONTAN WEEKLY III, Agustus 2009. Pg4. KORPORASI Bosowa Corporation berencana terus menambah kepemilikannya di proyek jalan tol. Di tangan Erwin Aksa, generasi kedua dinasti bisnis Aksa Mahmud,bisnis Bosowa Corporation kian menggeliat. Selain bisnis semen dan otomotif, yang selama ini jadi ikon mereka, tentakel bosowa kian panjang di sektor infrastruktur dan properti. Tidak sia-sia Aksa Mahmud mewariskan dinasti bisnis Bosowa kepada Erwin Aksa pada tahun 2004. Di tangan anak pertamanya itu, tentakel bisnis Bosowa - kependekan dari Bone, Soppeng, dan Wajo, di Sulawesi Selatan - semakin memanjang. Aksa sendiri memilih untuk menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat sejak 2004. Sebagai penerus bisnis keluarga Aksa, Erwin yang kala itu belum genap 30 tahun memfokuskan usaha ke dua sektor: Properti dan Infrastruktur. Alasannya,resiko bisnis dua sektor ini lebih kecil. Relatif aman dari krisis ekonomi dan politik. Selama ini perusahaan yang berdiri 1973 ini dikenal sebagai penguasa semen dan otomotif dari Indonesia Timur. Belakangan, jejak bisnis Erwin kian kentara. Di sektor infrastruktur, Bosowa sudah menambah kepemilikan jalan tol. Rabu (12/8/2009) lalu, melalui anak usahanya, PT.Nusantara Infrastructure Tbk (NI), Bosowa resmi membeli 25% saham PT.Jakarta Lingkar Barat Satu (JLB1), pemegang konsesi jalan tol Kebon Jeruk-Penjaringan alias Jakarta Outer Ring Road (JORR) W1. Bosowa mengakuisisi saham milik PT.Bangun Tjipta Sarana (BTS), pemegang saham mayoritas di PT.Jakarta Lingkar Barat 1 senilai Rp. 560 Miliar. Sebelum akuisisi, pemegang saham Tol JORR W1 adalah BTS sebanyak 80% dan PT.Jasa Marga Tbk (20%). Pasca-akuisisi, kepemilikan BTS (55%), sementara NI (25%) dan Jasa Marga tetap (20%). kepemilikan NI di Tol JORR W1 bisa bertambah. Sebab, "Dalam perjanjian itu, kami memiliki opsi untuk menambah kepemilikan hingga 52%," ujar Erwin Aksa, kini Presiden Direktur Bosowa Corporation. Presiden Direktur NI, Muhammad Ramdani Basri bilang, penambahan saham hingga mayoritas ini akan dilaksanakan asmpai tahun depan. Dananya didapat dari kas internal dan hasil penawaran umum terbatas (right issue), Oktober nanti. "Tapi itu belum keputusan final. Kami masih mengkaji sumber pendanaan lainnya," ujar Ramdani. NI berencana rights issue sebanyak 6.67 miliar - 10,67 miliar saham seharga Rp.75 per-saham. Target dananya Rp.500 - Rp.800 Miliar.
TIDAK ADA PERUBAHAN Sementara, di properti media, Bosowa memiliki Bosowa Global Hospital Makassar. Di luar infrastruktur dan poperti, Bosowa juga ekspansif di sektor energi, melalui PT.Bosowa Energy. Salah satu proyek yang tengah digarap ialah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Jeneponto, Sulawesi Selatan. Tahun lalu, proyek ini sempat tersendat karena seretnya modal. Namun, awal Agustus lalu, proyek kembali berjalan dan ditargetkan rampung 2011. PLTU berkapasitas 2x125 MW ini menelan investasi hingga U$ 200 juta. Untuk menutup dana ini, Bosowa menggaet pinjaman sebesar U$ 140 juta dari CHENGDA Engineer Corp, dan U$ 60 juta dari BRI. Seluruh pinjaman dipakai untuk pemesanan mesin dan konstruksi. Sementara, dari kantong kas internal, Bosowa mengeluarkan Rp.32 Miliar untuk membangun konstruksi pelabuhan dan jalan raya di wilayah sekitar PLTU dan pabrik semen. PLTU ini dibangun di Kawasan Industri jeneponto dengan luas area sebesar 230 hektare. "Dari total area tersebut, sebanyak 50 hektare akan digunakan untuk pembangunan PLTU, " tutur Erwin. Pembangkit Listrik ini menurut Erwin, rencananya dipakai untuk memasok listrik pabrik PT.Semen Bosowa. Di bidang otomotif, Bosowa menjadi distributor produk Mitsubishi dan Truk Fuso di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Bisnis ini di jalankan melalui PT.Bosowa Berlian Motors. Sepanjang 2008, Bosowa Berlian mampu menjual 4.053 unit mbil. Angka tersebut naik 78% dibanding dengan penjualan mobil tahun 2007.
EKSPANSI DI SEKTOR LAIN Ke depan, Erwin mengatakan perusahaan juga tetap mencari lahan tambang batubara, nikel, dan timah yang potensial. Menurut Erwin,saat ini bisnis infrastruktur memberi kontribusi 30% terhadap total pendapatan Bosowa. Adapun industri semen masih menjadi primadona dengan sumbangan sebesar 50%. Lalu, 20% lainnya berasal dari bisnis energi, otomotif, pertanian, pertambangan, properti dan jasa keuangan. |











