| Beranda |
| Tentang Kami |
| Unit Usaha |
| Sumber Daya Manusia |
| Tanggung Jawab Sosial |
| Berita |
| Peta Situs |
| Hubungi Kami |
| Pencarian |
| Karir |
Statistics
Pengunjung: 1220371| Tak Sekedar Penghijauan |
|
|
| Wednesday, 02 September 2009 | |
|
Ket foto: Untuk Antisipasi Dampak Global Warming Bosowa Ciptakan Varietas Padi Tahan Perubahan Iklim. Tribun Timur. Makassar (2/9). Pemanasan Global telah mengacaukan musim hujan dan musim kemarau. Beberapa upaya dan kebijakan dilakukan untuk mengurangi dampaknya, mulai dari penghijauan dengan gerakan Go Green hingga penyelamatan terumbu karang melalui Go Blue. Bosowa Corporation melalui Bosowa Foundation telah menggelar program penghijauan dengan mulai melakukan pembibitan pohon penghijauan, penanaman dan terakhir menawarkan sinergi dengan pihak lain melalui program Adopsi Pohon. Pemanasan Gobal (Global Warming) mulai menampakkan dampaknya dengan adanya kekacauan musim. Hal itu telah dirasakan para petani. Kondisi ini coba dijawab oleh Bosowa melalui penciptaan varietas padi unggul. Hal itu karena para petani kini sulit menentukan jenis varietas dan kalender tanam, lantaran iklim sulit diduga. Di berbagai wilayah Indonesia kekeringan dan banjir menggagalkan produksi pangan. Sawah banyak puso atau gagal panen lantaran kemarau panjang dan banjir. Mereka berharap bisa lebih mudah dan pasti dalam menetapkan varietas serta kalender tanam. Sesuai gejala-gejala iklim yang dipelajari. Bosowa memiliki misi kepedulian dalam hal peningkatan taraf hidup petani melalui program-program pemberdayaan. Untuk itu Bosowa awalnya melakukan penelitian bibit padi unggulan bekerjasama dengan Badan Litbang (penelitian pengembangan) Pertanian Sulsel dan telah mendapatkan varietas yang cocok untuk mengantisipasi perubahan iklim tetapi tetap mampu meningkatkan hasil tani. Dalam kerjasama itu didapatkan 13 varietas padi hibrida dan 13 varietas padi non hibrida Hasil padi hibrida adalah 10-11 ton/hektar sedangkan jenis non hibrida adalah 8-9 ton. Salah satu jenis padi yang non hibrida adalah jenis Ciherang dan perlakuan benih ini sangat cocok untuk di Wajo Sulsel. Lokasi yang kemudian dipilih adalah Desa Mattirowalie Kec. Maniangpajo, dengan waktu tanam akhir Mei 2009. Yang dilakukan oleh Bosowa adalah melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada petani untuk mau menanam, oleh karenanya Bosowa memberikan modal kerja Rp. 3Juta/hektar yang terdiri dari harga benih, biaya pengolahan lahan, penanaman , penumpukan dan kegiatan panen. Akhirnya varietas Ciherang ini diuji cobakan diatas lahan 100 hektar yang merupakan lahan pertanian milik beberapa kelompok tani.
Kini Perubahan Iklim Bukan Momok
Aksa : Tidak Usah Takut Elnino Datang |











