| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 1219225| Infrastruktur Jangan ke Dibebankan Ke Investor |
|
|
|
MediaTitle : Rakyat Merdeka
Oleh : Erwin Aksa (Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Muda Indonesia - Hipmi)
SYARAT membangun infrastruktur dasar kepada investor untuk mendapatkan fasilitas insentif fiskal dinilai akan memberatkan. Fasilitas tersebut dikhawatirkan tidak berhasil menggugah investor untuk melirik Indonesia Insentif fiscal merupakan fasilitas yang dikehendaki investor untuk berinvestasi ke daerah daerah tujuan investasi di Indonesia yang dinilai masih minim infrastruktur.
Namun syarat yang mengharuskan investor membangun infrastruktur dasar untuk mendapatkan insentif fiskal tersebut justru memberatkan investor. Jangan dibebankan ke investornya Di beberapa negara seperti China infrastruktur dasar seperti jalan jembatan dan pelabuhan murni dlsediakan oleh pemerintah. Jika syarat itu diterapkan investor akan menghitung ulang, Kalau temyata dalam perhitungannya masuk bisa saja investasi dilanjutkan. Ini memang kesulitan yang sering dihadapi investor di Indonesia Pemerintah sebaiknya fokus untuk mendorong investasi di sektor pengolahan sumber daya alam yang relatif lebih bisa bersaing dengan negara lain dibandingkan dengan sektor lainnya. Indonesia memiliki banyak prospek sumber daya alam yang bisa ditawarkan untuk dikembangkan kepada investor. Sayangnya prospek prospek seperti pengolahan batubara, gas dan kelapa sawit sejauh ini belum tersentuh. Daerah-daerah yang mengandung banyak prospek sumber daya alam itu cenderung memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang melebihi rata rata nasional seperti Sulawesi Barat yang sebesar 15 persen. Tetapi kebanyakan daerah-daerah tersebut justru memiliki infrastruktur yang minim. Sehingga untuk lebih mendorong pertumbuhan industri berbasis SDA di daerah itu diperlukan insentiffiskal. Kita tidak menyarankan fokus pemerintah berpaling ke industri lain seperti teknologi informasi ataupun transportasi. Selain kurang menyerap tenaga kerja negara-negara lain seperti China telah jauh lebih agresif mengembangkan industri tersebut. |











