| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 1293228| Aksa Mahmud : Berbisnis itu Seperti Peperangan |
|
|
|
MediaTitle : Bisnis Indonesia
Membangun dan menjaga kepercayaan kerap diulang-ulang dalam wawancara siang itu di ruang kerja yang disiapkan oleh putranya, Erwin Aksa. Seorang saudagar Jusuf Kalla juga terkesan memberikan inspirasi yang dalam bagi mantan wartawan ini dalam menjalani kehidupan dan bisnisnya. Bicara apa adanya, selalu berdoa, jujur, kerja keras, mau belajar, berani ambil risiko dan menghargai tenaga profesional seolah menjadi filosofi hidupnya dalam membangun imperium bisnis Bosowa Group. "Kalau tidak jujur jangan masuk dunia bisnis. Kalau tidak mau kerja keras dan tidak punya keberanian juga jangan masuk dunia bisnis. Karena bisnis itu bagaikan perang yang tiada habis-habisnya," ungkap Aksa Mahmud pendiri Bosowa Group. Menurut Aksa, pebisnis itu lebih keras kehidupannya daripada seorang tentara. Karena kalau tentara, selesai perang kembali ke asrama. Tapi, seorang pebisnis, mulai dari bangun harus berpikir peperangan bagaimana memenangkan hari itu, setelah tidur juga bagaimana harus bermimpi memenangkan peperangan itu. Keberhasilannya membangun Bosowa di wilayah timur Indonesia membuat Aksa berani mengklaim dirinya sebagai saudagar Bugis. Bagi pria kelahiran 16 Juli 1945, kecerdasan dan kejelian itu modal yang harus dimiliki seorang pebisnis. Pebisnis yang cerdas akan mampu menciptakan transaksi walau tidak ada barang, tidak ada pembeli. Aksa muda, dulunya dikenal sebagai aktivis muda yang panjang akal. Karena itulah di koran kampus saat itu, dia ditugasi untuk menagih piutang yang macet. Di tangannya tagihan macet itu jadi uang. Dia cuma memutar otak saja, uang pun keluar. Aksa yang terobsesi menjadi saudagar seolah memiliki modal, dengan panjang akalnya. Dia mengutip istilah saudagar ala Jusuf Kalla, "saudagar itu harus punya 1000 akal". Jadi kita harus mencari akal bagaimana semuanya masuk akal. Kalau tidak masuk akal, kita harus bisa memberikan argumen agar masuk di akal mitra bisnis. Itulah awal mula terjadinya pabrik semen Bosowa berdiri dan berkembang seperti sekarang, karena dukungan mantan Menkeu Mar'i Muhammad dan sejumlah bank BUMN, dengan meyakinkan mereka bahwa proyek itu masuk akal." Andai saja Aksa muda tidak bertemu dengan Jenderal Sayidiman, mungkin hingga kini Aksa Mahmud masih menjadi wartawan. Kenyataan bahwa tidak bisa menuliskan fakta suatu kejadian demi keamanan negara membuat pria kelahiran Barru, Sulsel ini mengambil keputusan "kalau begini profesi wartawan ini tidak membahagiakan saya, karena apa yang benar saya harus tulis tidak boleh dilakukan, sesuai kata-kata Jenderal Sayidiman. Akhirnya profesi ini saya tinggalkan karena tidak akan membuat kepuasan jiwa, terbentur pada kekuatan militer, tidak seperti sekarang. Akhirnya saya berpikir menjadi pebisnis." Momentum awal Peristiwa ditahan oleh Kodam menjadi momentum awal perjalanan hidup Aksa dalam membangun bisnis Bosowa di Makassar, sehingga kini dia merasa pantas menyandang gelar sebagai saudagar. Tetapi keterlibatan dalam pebisnis ini harus terhenti, saat dia harus memilih berkarier di panggung politik. Saat itu dia terpilih sebagai Wakil Ketua MPR periode 2004-2009 dari fraksi Golkar. "Setelah saya terpilih menjadi pimpinan MPR, maka saya melakukan peralihan kepemimpinan Bosowa karena undang-undang juga menyebutkan bahwa pejabat negara tidak boleh berada dalam struktur perusahaan. Saya serahkan pengelolaan Bosowa pada Erwin," ungkap pria yang aktif di Hipmi pada era 1980-an. Erwin, putra pertama dari pasangan Aksa Mahmud dan Ramlah (adik Jusuf Kalla) memang sudah saya siapkan sebagai pemegang tongkat estafet Bosowa. "Erwin pulang dari belajar di Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat umur 23-24 tahun dan mulai ikut magang di pabrik semen, menjadi manajer dan pada 2006 menjadi nakhoda di Bosowa Group," jelas anggota Badan Pertimbangan Kadin Indonesia ini. Untuk menyiapkan putra mahkota ini, Aksa belajar kepada 22 pengusaha Bugis yang berpredikat menjadi saudagar. Dari 22 pengusaha Bugis yang berhasil ternyata hanya Haji Kalla yang bisa berhasil mempertahankan perusahaannya hingga sekarang karena sejak awal sudah memberikan tongkat estafet ke putranya. Sebagian besar umur perusahaan pengusaha Bugis ini hanya seumur dengan dirinya. Tetapi memang bukan hanya pengusaha Bugis, melainkan kebanyakan pengusaha di Tanah Air seumur dirinya, kata Aksa. "Setelah Pak Jusuf jadi Ketua Kadin dan menteri, saya gantikan posisinya jadi Ketua Kadin dan saat itu saya mencari keluarga ke 22 pengusaha ini. Saya wawancarai dan pelajari dimana letak kegagalan sebenarnya." Dari situlah Aksa berkesimpulan mungkin karena keuletan pengusaha Bugis ini sehingga mereka berpikir kalau dirinya tidak akan sakit, bahkan lupa bahwa dia akan mati. Sering kali mereka juga lupa bahwa dunia di sekitar terus berubah dan kebijakan-kebijakan pemerintah terus bergantian. "Itulah sebabnya mereka lupa pula mempersiapkan generasi penerusnya." Yang kedua adalah bahwa mereka tidak melakukan perubahan-perubahan dalam bisnisnya karena di Tanah Bugis itu ada istilah pengguwa (penguasa), semua keputusan ada pada dirinya dan dia menjadi satu-satunya menjadi model dalam menjalankan bisnisnya. Obsesinya untuk menjadi saudagar Bugis sepertinya tak pernah menyurutkan semangat pria beranak lima ini. Karena di dalam budaya Bugis ada kriteria kesaudagaran harus memiliki sesuatu yang monumental. Dia pun mengklaim, "barangkali saya sudah membuat monumental karena punya pabrik semen dan jalan tol. Jadi sudah memenuhi syarat saudagar." Kriteria lain, katanya, harus berjiwa sosial. "Biar banyak uangnya kalau tidak sosial, maka tidak layak menjadi saudagar. Itulah kesaudagaran Bugis, setelah saya pelajari semuanya." Namun Aksa mengakui ada satu hal yang belum sempat dipelajari secara serius, yaitu apakah 22 pengusaha ini hanya memiliki satu istri atau lebih dari satu istri. Karena konon, kata Aksa, ada selentingan lain kalau salah satu kriteria kesaudagaran Bugis itu adalah memiliki istri lebih dari satu. "Itulah sebabnya sampai hari ini saya tidak bisa menjadi saudagar, karena istri saya cuma satu. Jadi saya gagal meraih predikat menjadi saudagar Bugis. Saya hanya bisa jadi pengusaha Bugis saja," katanya. Tentang persiapan generasi kedua, Aksa mengakui menyiapkan lima putra-putrinya supaya memiliki dasar untuk melanjutkan perusahaan, dan membiarkan anak-anak menggali potensi dirinya. "Putra-putrinya tidak dibiarkan hidup bersenang-senang dan tidak melatih diri untuk menggali potensi. Mereka harus pernah merasakan lapar. Karena kalau seseorang lapar, dia akan berputar otak kita untuk mencari makan. Tapi kalau dibiarkan senang-senang dan semua serba ada, maka mereka tidak mau mengeluarkan potensinya. Saya kira ini salah satu kekurangan para saudagar Bugis pada masa lalu." Para saudagar bugis tidak pernah berpikiran untuk menyerahkan kepemimpinan perusahaan kepada anaknya. Satu-satunya saudagar Bugis yang menyerahkan ke anaknya hanya Haji Kalla. Aksa meniru langkah saudagar tersebut. Bosowa mengambil inspirasi dari kehebatan tiga kerajaan di tanah Bugis yaitu Bone, Sopeng, dan Wajo (Bosowa) menjadi sebuah kerajaan bisnis. Seiring dengan perubahan nama menjadi Bosowa Corporation, kerajaan bisnis itu terus merambah ke bidang agribisnis, pendidikan, perhotelan dan properti, infrastruktur, energi, dan perbankan. Akankah mimpi Aksa menjadi saudagar Bugis ke-23 terealisasi? Kita tunggu saja. |











