| Beranda |
| Tentang Kami |
| Unit Usaha |
| Sumber Daya Manusia |
| Tanggung Jawab Sosial |
| Berita |
| Peta Situs |
| Hubungi Kami |
| Pencarian |
| Karir |
Statistics
Pengunjung: 1293238| Mengubah Paradigma Bisnis Keluarga |
|
|
|
MediaTitle : Media Indonesia
Sebagai generasi kedua, Erwin bergerak cepatmentransformasi perusahaan dengan menekankanefisiensi dan reorganisasi. BISNIS keluarga selama ini identik dengan usaha yang kerap menomorduakan profesionalisme. Ini terjadi karena dalam bisnis keluarga cenderung mengutamakan prinsip-prinsip kekeluargaan. Budaya yang kurang ideal itulah yang ingin dirombak Erwin Aksa sejak dipercaya meneruskan tongkat estafet kepemimpinan dari sang ayah di Bosowa Corporation pada 2004. Sejak mulai memegang kendali Bosowa Corp menggantikan sang ayah, HM Aksa Mahmud, yang terjun di politik dan menjadi Wakil Ketua MPR RI, hal pertama yang terlintas di benak Erwin adalah mentransformasi usaha keluarga dengan meminimalkan keterlibatan anggota keluarga. Baginya, dalam bisnis tradisi, keluarga harus berani memberikan kepercayaan lebih kepada profesional. Peran keluarga dalam prosedur-prosedur profesionalisme harus dibatasi.
"Keluarga hanya boleh bicara mindset makro dan strategi utama perusahaan. Selebihnya, serahkan kepada profesional untuk hal teknis dan detail pengelolaan agar transparansi dan aspek pengelolaan perusahaan bisa berjalan baik," ujar Erwin belum lama ini. Bosowa Group dirintis de-rfgan nama CV Moneter oleh HM Aksa Mahmud pada 22 Februari 1973. Perusahaan yang didirikan di Makassar, Sulawesi Selatan, itu merupakan perusahaan perdagangan dan melakukan terobosan penting pertamanya pada 1978 dengan mendapatkan hak distribusi eksklusif mobil Datsun untuk kawasan Indonesia Timur.
Setelah selanjutnya berganti nama menjadi PT Moneter Motor, perusahaan itu mendapat hak distribusi eksklusif Mitsubishi Motors. Selanjutnya perusahaan itu menandai permulaan perkembangan Bosowa Group dengan menggunakan nama PT Bosowa Berlian Motor pada 1980.
Sebagai generasi kedua, Erwin bergerak cepat mentransformasi perusahaan dengan menekankan efisiensi dan reorganisasi. Tujuannya agar bisnis keluarga yang dirintis sang ayah itu dapat fokus mengembangkan unit-unit usaha yang menjadi bisnis inti.
Pria kelahiran Ujung Pandang, 7 Desember 1975 itu mulai merestrukturisasi perusahaan. Misi baru Bosowa Group yang diusung pada 2007 adalah Menjadi Berkah bagi Masyarakat Indonesia dengan Semangat Perintisan IndonesiaTimur.
Melalui restrukturisasi, unit-unit usaha yang tidak besar secara portofolio dan kurang memiliki prospek usaha yang menarik dipangkas.
Pria lulusan University of Pittsburgh, Pennsylvania, AS, itu memfokuskan tujuh sektor usaha yang dinilai paling memiliki potensi berkembang, yakni distribusi mobil, semen, logistik dan transportasi, infrastruktur, energi, jasa keuangan, dan properti.
Selain merampingkan unitbisnis, eksekutif muda berusia 34 tahun itu mulai melakukan pembenahan terutama dalam hal kapasitas sumber daya manusia. "Organisasi yang ideal adalah organisasi yang harus diisi dengan orang-orang yang kompeten di setiap bidang yang ada. Perlu ada pergantian manajemen sehingga program bisa berjalan," kata pria yang memiliki prinsip hidup never give up ini.
Transformasi
Dari situ manajemen dapat mengukur efektivitas perbaikan dan kelemahan-kelemahan yang ada. "Kita lantas bisa buat perencanaan yang tepat dan mengidentifikasi orang-orangyang kita kelola," ujar ayah dari tiga anak itu. Diakuinya, melakukan perubahan besar tentu bukan perkara mudah. Meski selalu berupaya mengomunikasikan setiap perombakan yang dilakukan, tidak semua pihak dapat memahaminya. Bahkan, tidak sedikit yang kemudian mengundurkan diri karena tidak sejalan dengan perubahan. Pria penggemar olahraga golt itu menyadari, ide besar tidak bisa dipaksakan kepada seluruh sistem tanpa komunikasi yang baik. Komunikasi harus dilakukan secara bertahap dan tidak langsung secara simultan. Namun, Erwin tidak lelah mengupayakan perubahan itu.
"Kunci keberhasilan transformasi tentu disiplin melakukan evaluasi dan analisis organisasi secara berkala. Kita harus memastikan yang kita lakukan terkontrol dengan baik untuk mengidentifikasi apa yang bisa kita lakukan lagi ke depan," ujarnya.
Menurutnya, perombakan, efisiensi, dan proses pembelajaran yang berkelanjutan dalam usaha itu penting. Apalagi, Bosowa lahir dan berkembang dari kawasan Indonesia Timur. Untuk terus bertumbuh, tentu tantangannya lebih besar ketimbang perusahaan-perusahaan lain yang tumbuh di Pulau Jawa yang kaya akan sumber daya alam. Kerja keras Erwin menuai hasil. Dalam enam tahun kepemimpinannya, Bosowa Group semakin besar. Aset perusahaan saat tongkat estafet berpindah ke tangannya sebe-sar Rp3 triliun. Berdasarkan situs perusahaan, tahun 2009 Bosowa menjadi grup perusahaan terbesar di wilayah Indonesia Timur dengan total aset mencapai Rp5,5 triliun.
Pertumbuhan aset ini sejalan dengan investasi perseroan di sektor-sektor besar terutama di infrastruktur. Bosowa Group, melalui Bosowa Energi, saat ini tengah menggarap pembangunan PLTU Jeneponto, Sulawesi Selatan, berkapasitas 2\100 Mw. Selain itu, ada empat jalan tol garapan Bosowa Group yang saat ini sudah beroperasi.
Di sektor jasa keuangan, ada sejumlah anak usaha yang bergerak di bidang asuransi dan multifinance. Di otomotif. Bosowa melebarkan sayap dan memiliki hak distribusi empat merek, yaitu Mitsubishi. Proton, Hyundai, dan Mercedes-Benz.
Di properti. Bosowa memiliki beberapa hotel di Bali dan Makassar dan gedung perkantoran. "Kami juga sedang bangun hotel baru dan rumah sakit. Di infrastruktur, ada pembangunan pembangkit listrik tenaga gas dan terminal elpiji."
Khusus semen, produkpaling populer milik Bosowa, ditargetkan bisa mempertahankan pangsa pasar semen hingga 1091 pada dua tahun mendalang. Bosowa berkeinginan memenuhi sekitar 4,3 juta ton dari total produksi semen secara nasional sebesar 45 juta ton per tahun. (E-5) anindityo @mediaindonesia.com |











