| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 1293251| Industri Semen Booming |
|
|
|
Media Title : Investor Daily Indonesia
Journalist : Damiana Ningsih Simanjutak
Seiring pertumbuhan perekonomian Indonesia yang diperkirakan bisa mencapai 6,4-6,7% pada 2011, para pelaku usaha di Tanah Air juga optimistis industri semen berkembang lebih baik. Sektor properti diyakini akan menjadi "penopang utama pertumbuhannya.
Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Timuryono memproyeksikan, konsumsi semen nasional tahun 2011 naik 10% menjadi 44,33 juta ton dibandingkan 2010 sekitar 40,3 juta ton. Prediksi ini jauh lebih bagus dan melebihi dari pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya yang selalu hanya naik sekitar 6%, atau sedikit di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan catatan ASI, sekitar 60-70% porsi konsumsi semen di Indonesia masih berasal dari sektor swasta dan sisanya diserap oleh proyek pemerintah. Pertumbuhan konsumsi semen terutama akan ditopang sektor properti perumahan dan perkantoran yang masih terus berkembang. Permintaan semen juga akan terus meningkat seiring banyaknya proyek infrastruktur dan pembangunan konstruksi dari pemerintah yang mulai dikerjakan tahun 2011. Hal ini seiring dengan realisasi dan pencairan dana APBN pada proyek-proyek pemerintah, yang sempat tertunda tahun ini. Untuk memenuhikebutuhan konsumsi tahun depan, kapasitas terpasang industri semen nasional ditaksir mencapai 51 juta ton. "Angka itu berdasarkan perhitungan utilisasi industri se-men yang mencapai 85%. Saat ini, kapasitas terpasang semen nasional sekitar 47 juta ton," kata Urip, baru-baru ini. Produsen semen dalam negeri pun sudah mengantisipasinya. Tambahan kapasitas antara lain berasal dari pabrik PT Semen Andalas Indonesia, anak usaha PT Lafarge Cement Indonesia, dengan kapasitas terpasang 1,6 juta ton/tahun. Pabrik yang berlokasi di Lhok Nga, Nangroe Aceh Darussalam (NAD) ini dijadwalkan beroperasi pada Maret 2011. Semen Andalas investasi US$ 300 juta untuk membangun pabrik tersebut, yang rusak akibat tsunami tahun 2004. Selama pembangunan dilaksanakan, perseroan memenuhi permintaan semen dengan mengimpor sekitar 1,2 juta ton dari Malaysia. Ada juga pabrik semen baru yang akan beroperasi tahun 2011. Salah satunya perusahaan lokal di Jember, JawaTimur, PT Semen Puger Raya Sentosa, mulai memproduksi 300 ribu ton/tahun untuk memasok pasar Jawa Timur. Perseroan sudah menyampaikan rencana itu setahun lalu dan telah investasi sekitar US$ 30 juta. Dihubungi terpisah, CEO Bosowa Group Erwin Aksa mengatakan, pihaknya juga berencana menambah kapa-sitas pabrik Semen Bosowa Maros pada 2011. Bosowa akan menambah kapasitas penggilingan Semen Bosowa Maros sekitar 1,5 juta ton pada Maret 2011. "Investasi yang dipersiapkan sekitar US$ 30-40 juta," tuturnya. Bosowa Group belum berencana membangun pabrik baru meski sedang mencari lokasi yang ideal untuk ekspansi. Pembangunan pabrik baru akan dilakukan jika konsumsi semen sudah melonjak siginifikan. Kapasitas terpasang Bosowa Group saat ini 3 juta ton, berasal dari Semen Bosowa Maros 1,8 juta, ton dan Semen Bosowa Batam 1,2 juta ton. Sedangkan Menteri Perindustrian MS Hidayat mengimbau, produsen semen di Indo-nesia mengoptimalkan pemanfaatan komponen lokal dalam membangun fasilitas pabrik, termasuk tenaga kerja dan kontraktor. "Selain itu, industri semen juga harus mengutamakan memenuhi persyaratan aspek lingkungan," harapnya. Harga Naik Erwin memperkirakan, harga semen bakal naik tahun 2011, seiring peningkatan harga batubara yang menjadi bahan bakar utama produksi semen. "Harga semen akan naik tahun 2011 karena harga batubara juga naik sekitar 30%," ujarnya. Urip menjelaskan, biayaenergi, yakni listrik dan batubara merupakan penyumbang terbesar terhadap ongkos produksi semen, yakni mencapai 65-70%. Batubara saat ini menjadi energi paling murah bagi industri semen dibandingkan bahan bakar minyak bumi dan gas. Dia juga menyampaikan, penentuan harga semen diatur oleh mekanisme pasar, yakni permintaan dan pasokan. "Kalau tidak ada alasan, produsen tidak akan menaikkan harga. Sebab sesama industri juga bersaing," imbuhnya. Tahun 2010 Sementara itu, tahun 2010 hingga November, konsumsi semen nasional telah mencapai 36,8 juta ton, naik 6,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu 34,6 juta ton. "Pertumbuhan terbesar penjualan semen sepanjang tahun ini terutama terjadi pada awal tahun ketika orang masih banyak membangun," tutur Urip. Penyerapan semen terbesar masih terjadi di Pulau Jawa dengan pertumbuhan di atas 8%, atau melebihi kenaikan penjualan semen nasional 6%. Penjualan semen banyak dilakukan secara eceran mencapai 80% dari 20% dalam bentuk kemasan kantong. Sektor yang paling menyerap semen masih berasal dari pembangunan properti perkantoran dan perumahan mencapai 60%. Sedangkan realisasi dari pembangunan infrastruktur masih belum bisa diharapkan, seiring realisasi anggaran pemerintah yang berjalan lambat pada 2010. Penjualan semen nasional diyakini akan mencapai target 403 juta ton tahun 2010. "Kekurangan target penjualan akan terpenuhi pada kuartal IV-2010, mengingat beberapa proyek pemerintah telah selesai pembebasan lahannya dan segera dibangun," katanya. (cO2) |











