| Beranda |
| Tentang Kami |
| Unit Usaha |
| Sumber Daya Manusia |
| Tanggung Jawab Sosial |
| Berita |
| Peta Situs |
| Hubungi Kami |
| Pencarian |
| Karir |
Statistics
Pengunjung: 1293280| Bosowa Jajaki Rice and Food Estate di Nunukan |
|
|
|
Media Title : Tribun Kaltim
Date : Rabu, 25 Januari 2012
Journalist : Niko Ruru
TRIBUNNEWS.COM, NUNUKAN- Pendiri Bosowa Grup HM Aksa Mahmud, Rabu (25/1/2012) meninjau lahan-lahan yang dapat digunakan untuk program rice and food estate di Kabupaten Nunukan. Dengan menggunakan helikopter, Aksa yang didampingi Bupati Nunukan Basri berputar-putar sekitar satu jam di udara Kabupaten Nunukan.
Aksa mengatakan, kelompok Bosowa masuk dalam program ini dengan maksud agar Indonesia berhenti mengimpor beras. “Luas sawah irigasi kita, hanya 20 persennya di Thailand. Tetapi dia ekspor ke Indonesia. Sawah kita tidak produktif. Sawah perhektar 5-6 ton. Di negara lain sudah 10 ton keatas. Makanya butuh teknologi,” ujarnya. Ia mengatakan, Bosowa menilai beras lebih penting dari minyak. Apalagi dengan menanam padi setiap petani bisa menghasilkan Rp30 juta untuk sekali panen perhektarnya. Jika dalam setahun petani dimaksud mampu memanen hingga tiga kali, berarti dia bisa mendapatkan Rp90 juta setahun. Berbeda dengan petani kelapa sawit yang produksinya 3 juta ton sampai 3,5 juta ton pertahun, hanya mempu memberikan pemasukan untuk petani sebesar Rp 40 juta per hektarenya. Dalam program food and rice estate, Bosowa memberikan bimbingan kepada para petani. Perusahaan ini memproduksi bibit yang diberikan kepada petani. Selanjutnya petani ini dididik untuk melakukan pemupukan. “Inilah fungsi-fungsi Bosowa Foundation,” ujarnya. Meskipun demikian, dari peninjauan yang dilakukannya hari ini, Aksa malah melihat Kabupaten Nunukan lebih cocok untuk pengembangan kelapa sawit ketimbang padi. “Untuk menanam padi diperlukan air tawar, saya lihat dari atas Nunukan banyak air asin. Kalau ini kita lakukan, berarti ini tadah hujan. Ini tidak produktif. Sawit yang produktif di sini,” ujarnya. |











