| Beranda |
| Tentang Kami |
| Unit Usaha |
| Sumber Daya Manusia |
| Tanggung Jawab Sosial |
| Berita |
| Peta Situs |
| Hubungi Kami |
| Pencarian |
| Karir |
Statistics
Pengunjung: 1293283| BNI Restrukturisasi Bosowa Hingga 2015 |
|
|
|
JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menandatangani restrukturisasi kredit Bosowa Group senilai Rp 584 miliar hingga tahun 2015. "Restrukturisasi terus berjalan seperti untuk Bosowa. Kami sudah sepakat untuk meresktrukturisasi kredit macetnya. Utangnya akan di reschedule dengan komitmen membayar bunga," kata Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo di Jakarta, Kamis (14/8).
Menurut Gatot, sesuai kesepakatan yang diteken Rabu (13/8), restrukturisasi terhadap Bosowa dilakukan dengan memperpanjang cicilan kredit hingga tahun 2015, sebab perseroan tidak melakukan haircut terhadap utang pokoknya. Bunga pinjaman yang dikenakan mengikuti bunga komersial. Perseroan menilai Bosowa sangat kooperatif dan patuh dalam membayar bunga. Selain itu, perseroan menilai bisnis Bosowa sangat prospektif dan berkelanjutan, terutama infrastruktur dan semen. "Bisnis infrastruktur oleh Bosowa yang ada di Jawa maupun Sumatera masih prospektif dan berkelanjutan. Ini yang menjadi dasar BNI melakukan restrukturisasi. Untuk restrukturisasi, bisa dipercepat tidak harus menunggu tahun 2015," jelas dia.
Dengan keberhasilan merestrukturisasi Bosowa, BNI optimistis rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/ NPL) bruto dapat mencapai di bawah 5% pada akhir 2008. "Target kami di bawah 5%," tegas Gatot. Untuk NPL net, perseroan menargetkan di bawah 2%. Hingga saat ini, jumlah NPL gross BNI sekitar 7,5% dan NPL net sekitar 1,7%. Menurut dia, perseroan akan mengevaluasi langkah tersebut selama tiga bulan. Jika kebijakan restrukturisasi yang dilakukan berdampak positif, kolektibilitasnya bisa dinaikkan kembali menjadi kolektibilitas satu (lancar). Selain Bosowa, debitor besar BNI lainnya adalah PT Prima Inreksa (Rp 343 miliar), PT.Duta Rendamulya (Rp 191 miliar), PT Perwita Karya (Rp 186 miliar), PT Himalaya Tunas(Rp 172 miliar), PT Jakarana Tama (Rp 141 miliar), PT Radiance (Rp. 132 miliar), PT Griya Pesona Mentari (Rp 120 miliar), PT Zi-don Indonesia (Rp 118 miliar), dan PT Citra Insulindo Abadi (Rp 109 miliar). Sepuluh debitor kakap ini mengontribusi 27,3% NPL dan 2,1% dari total pinjaman. Pada bagian lain, analis pasar modal Haryo Koconegoro mengatakan, perseroan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut dan secara umum kinerja yang ditunjukkan selama semester I-2008 cukup memuaskan. Bahkan, perseroan diprediksi dapat memeroleh laba bersih sebesar Rp 1,8 triliun pada akhir tahun 2008. Pada semester II ini, laba BNI bisa melaju kencang. Apalagi jika kebijakan provisi sudah tuntas atau tidak sebanyak semester lalu. Manajemen BNI pasti bisa melakukan terobosan untuk menyelesaikan NPL dan berkinerja lebih baik lagi," jelas dia. |











