| Beranda |
| Tentang Kami |
| Unit Usaha |
| Sumber Daya Manusia |
| Tanggung Jawab Sosial |
| Berita |
| Peta Situs |
| Hubungi Kami |
| Pencarian |
| Karir |
Statistics
Pengunjung: 1293283| RESTRUKTURISASI HUTANG BOSOWA HINGGA 2015 |
|
|
|
Bisnis Indonesia, 26 September 2008, JAKARTA - Sebanyak tiga bank pemerintah sepakat merestrukturisasi kredit PT Semen Bosowa Maros senilai Rp 1,73 triliun. Pelunasan utang diperpanjang dari jadwal semula tahun 2011 menjadi 2012. Ketiga bank tersebut adalah PT Bank Mandiri Tbk. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), dan PT Bank Tabungan Negara (BTN). "Dicapai kesepakatan untuk merestrukturisasi lebih cepat dari waktu semua 2015," kata Direktur Special Asset Management Bank Mandiri Abdul Rahman usai bertemu dengan manajemen Bosowa Group di Jakarta. Kamis (25/9). Dia mengatakan, totaJ utang yang direstrukturisasi mencapai Rp 1.73 triliun dengan suku bunga yang dikenakan sebesar 12-13%. Jangka waktu- cicilan sampai 2012 untuk kredit sustainable senilai Rp 526 miliar. Sedangkan untuk unsustainable senilai Rp 1,2 triliun.
Pinjaman Semen Bosowa macet akibat melambungnya kurs rupiah ketika krisis eko-nomi terjadi tahun 1997. Setahun sebelum krisis terjadi, Semen Bosowa mendapatkan pinjaman iss 225 juta atau Rp 526,3 miliar jika menggunakan kurs ketika itu Rp 2.339 per dolar AS. Dana itu dipakai untuk membangun pabrik semen dengan kapasitas 1,8 juta ton. Akibat krisis, kurs rupiah pun melambung, sehingga utang Bosowa membengkak menjadi Rp 1,73 triliun. "Ini bukan karena mismanage-men, tapi lebih disebabkan force majeure," kata Chief Executive Officer (CEO) Bosowa Group -Erwin Aksa. Porsi kredit Bank Mandiri 60%, BNI 36%, dan BTN 4%. Penarikan dilakukan melalui BNI cabang Singapura dalam mata uang dolar AS. Tahun 2002, utang itu sempat direstrukturisasi berdasarkan keputusan Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) menjadi dua bagian. Pertama pinjaman asli senilai Rp 526,3 miliar dikenakan suku bunga komersial dan jatuh tempo 2011. Kedua, pinjaman unsustainable sebesar Rp 1,2 triliun yang diakibatkan selisih kurs dikenakan suku bunga 2% dan jatuh tempo 2015. Namun, restrukturisasi tidak berjalan mulus karena arus kas debitor tidak mencukupi, seiring rendahnya harga semen dan pasokan yang berlebih. Dengan membaiknya pasar semen dan meningkatnya permintaan nasional, arus kas Semen Bosowa pun membaik. Akibatnya, Bosowa siap membayar tunggakannya, termasuk cicilan awal. Bahkan cicilan itu diperkirakan dapat lebih cepat dari jadwal semula 2015. "Sekarang utang tersebut direstrukturisasi kembali. Untuk pinjaman asli sebesar Rp 526,3 miliar dikenakan suku bunga 12% ke atas dan jatuh tempo menjadi 2012," jelas Abdul Rachman. Sedangkan kredit unsustainable sebesar Rp 1,2 triliun dikenakan suku bunga di bawah tingkat suku bunga komersial. Jatuh tempo tetap 2015 dan diangsur mulai 2013. "Apabila terdapat sisa outstanding kredit di atas Rp 600 miliar, dapat dikonversi menjadi saham minimal 30%," jelas Abdul Rachman |











