| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 1218895| Stimulus Fiskal Ciptakan 1 Juta Lapangan Kerja |
|
|
| Thursday, 15 January 2009 | |
|
JAKARTA - Pemerintah optimistis stimulus fiskal sebesar Rp 27,7 triliun mampu menciptakan satu juta lapangan kerja tahun ini. Apalagi, Rp 6 triliun dari stimulus itu digunakan untuk tambahan anggaran infrastruktur yang bisa menyerapbanyak tenaga kerja. "Seluruh anggaran stimulus yang disediakan bisa menyerap 700 ribu hingga satu juta tenaga kerja," kata Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta, di Jakarta, Senin (19/1). Menurut Paskah, pemerintah memprioritaskan anggaran pada program infrastruktur, karena hal itu dinilai bisa menyerap banyak tenaga kerja. Proyek infrastruktur seperti jalan, jembatan, irigasi, dan air bersih akan memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memberi kontribusi signifikan dalam pertumbuhan ekonomi. Dari total stimulus Rp 27,7 triliun, sekitar Rp 12,5 triliun dalam bentuk pajak pertambahan nilai dan bea masuk yang ditanggung pemerintah. Sisanya, Rp 15,2 triliun, merupakan stimulus tambahan yang dialokasikan untuk berbagai proyek, termasuk infrastruktur yang mendapat kuota Rp 6 triliun. "Stimulus untuk infrastruktur terbanyak dialokasikan ke Departemen Pekerjaan Umum, sisanya ke Departemen Perhubungan," kata Paskah.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan menjelaskan, pertambahan angkatan kerja mencapai 2,5 juta orang per tahun, sehingga stimulus fiskal harus bisa menyerap 1 juta tenaga kerja. Rusman menambahkan, jika pemerintah hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi sekitar 4,5-5,5% tahun ini, angka pengangguran sulit ditekan. Dengan asumsi setiap pertumbuhan ekonomi 1% menciptakan lapangan kerja 400 ribu orang, maka target pertumbuhan 2009 yang pesimistis 4,556 hanya bisa menciptakan 1,8 juta lapangan kerja. Bahkan, jika mengacu skenario pertumbuhan optimistis 5,5%, tenaga kerja yang terserap baru 2,2 juta orang. "Artinya, masih ada sekitar 300 ribu angkatan kerja yang menganggur. Di sinilah peran penting stimulus fiskal, agar angka pengangguran turun. Program stimulus juga harus bisa menahan jumlah pekerja yang di-PHK melalui proyek-proyek infrastruktur dan padat karya," ujar Rusman. Hingga Agustus 2008, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 9,39 juta orang.
Jangka Pendek
Ekonom Instutite for Development of Economics and Finance Ahmad Erani Yustika menilai, penciptaan 1 juta lapangan kerja melalui stimulus fiskal masih realistis. Namun, lapangan kerja sebanyak itu hanya tercipta untuk jangka pendek, melalui proyek-proyek padat karya yang biasanya hanya berumur tiga bulan. Untuk itu, pemerintah harus memikirkan terobosan bagi penciptaan lapangan kerja yang lebih permanen dan jangka panjang. "Itu dapat dilakukan, misalnya dengan menerapkan program padat karya khusus untuk masyarakat yang tak punya modal dan keterampilan sama sekali. Masyarakat yang masih memiliki sedikit tabungan dan keterampilan diberikan skema yang lebih baik, dengan bantuan finansial maupun nonfinansial untuk berwiraswasta," kata Erani. Sedangkan ekonom CIMB Niaga Winang Budoyo mengatakan, stimulus fiskal idealnya memang difokuskan pada proyek-proyek infrastruktur sehingga dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak. Namun, dia meragukan apakah proyek-proyek itu bisa berjalan sesuai jadwal, karena pengalaman tahun 2008 menunjukkan, banyak proyek pemerintah yang baru berjalan setelah kuartal IH. "Kalau ini terjadi lagi, saya tidak yakin penyerapan tenaga kerjanya bisa mencapai 1 juta," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa mengatakan, stimulus fiskal bisa menciptakan lapangan kerja, apabila mampu memicu permintaan barang dan jasa di dalam negeri. Pasalnya, krisis global membuat volume perdagangan dunia mengecil. Kondisi itu akan terus memburuk dan memengaruhi kinerja ekspor Indonesia.
Pertumbuhan 2008 di Atas 6%
Pada bagian lain, Rusman Heriawan memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2008 akan mencapai di atas 6%, meski ada perlambatan ekonomi pada kuartal FV-2008. "Sepanjang tiga triwulan pertama pada 2008, rata-rata pertumbuhan Indonesia berada di level 6,3%, sehingga pemerintah masih mempunyai tabungan yang akan membuat pertumbuhan ekonomi tetap di atas 6%," tegasnya. Winang Budoyo juga memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2008 di kisaran 6,1-6,2%, karena perlambatan pertumbuhan ekonomi baru terjadi di paruh kedua 2008. "Pada paruh pertama, ekonomi Indonesia masih tumbuh sebesar 6,3-6,4%. Itu angka yang tinggi," ujarnya. Ahmad Erani Yustika memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2008 mencapai sekitar 6,1%. "Rata-rata pertumbuhan ekonomi kuartal 1 sampai 111 tahun lalu masih oke. Dengan pertumbuhan kuartal IV diasumsikan sekitar 5,8-5,9%, maka pertumbuhan ekonomi sepanjang 2008 bisa mencapai 6,1%. Ini masih realistis," kata dia.
|











