| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 695739| 80% UKM Tak Akan PHK Karyawan |
|
|
| Wednesday, 21 January 2009 | |
|
JAKARTA - Sebanyak 80% usaha kecil menengah (UKM) tidak akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), bahkan 13% di antaranya siap merekrut pekerja. Hasil survei HSBC Commereial Banking Asia Pasifik di Indonesia pada Oktober dan November 2008 menunjukkan, hanya sekitar 7% UKM yang berencana mengurangi pegawai. "Kami sangat optimistis terhadap potensi UKM dalam penyerapan tenaga kerja. Dengan melihat reaksi positif pasar, peningkatan penyerapan tenaga kerja bisa tetap berjalan di tengah krisis global yang terjadi," kata Head of Small and Medium Enterprises HSBC Indonesia Steven Miller dalam acara yang bertajuk HSBC Commercial Banking Asia PasiBc Small Business Confidence Survey, di Jakarta, Selasa (20/1). Steven merinci, dari 13% UKM yang siap menambah pegawai, 11% UKM akan menaikkan jumlah pegawai hingga 20% dan 2% lainnya akan meningkatkan pegawai lebih dari 20%. Sedang-kan sebanyak 6% UKM akan mengurangi jumlah tenaga kerja hingga 20% dan hanya 1% UKM yang berencana mengurangi pegawai lebih dari 20%. Sesuai hasil survei tersebut, ada empat kesimpulan terkait kondisi UKM di Tanah Air. Pertama, mayoritas UKM di Indonesia atau sekitar 61% melihat konsistensi atau peningkatan pertumbuhan ekonomi pada 2009. Kedua, mayoritas UKM berencana untuk tidak mengubah rencana penanaman modal dalam enam bulan ke depan. Bahkan, 24% UKM akan meningkatkan modal. Ketiga, jumlah tenaga kerja masih stabil, meskipun pandangan terhadap perekonomian negatif. Keempat, tren iklim investasi di Indonesia mengalami perubahan, yakni tingkat kepercayaan secara umum menurun, namun masih lebih positif dibandingkan pasar regional. Senior Vice President Business Banking HSBC Indonesia Jeffrey C Tjoeng menambahkan, Indonesia lebih siap menghadapi krisis global dibanding negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik, melalui pertumbuhan UKM-nya. "Namun, hal yang penting saat iai adalah bagaimana cara negara-negara di dunia menghadapi dan mengatasi krisis global serta mempersiapkan diri menghadapi krisis global itu," ujarnya.
Dikonfirmasi terpisah, Ketua Komisi Tetap Bidang Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sandiaga Uno memperkirakan UMKM akan tetap tumbuh pada tahun ini, meski tidak sefantastis tahun lalu. Pertumbuhan UMKM tersebut dipicu oleh banyaknya korban PHK yang memilih mendirikan usaha kecil sebagai salah satu alternatif pekerjaan. "Seperti saat krisis 1998, UMKM yang lahir hampir 10 juta. Saya perkirakan 2009 ini juga akan melahirkan UMKM yang dapat menyerap pengangguran. Karena itu, kunci pertumbuhan adalah penguatan pasar do-mestik dan tersedianya financing (pembiayaan)," paparnya. Sedangkan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa mengatakan, pertumbuhan UKM tergantung upaya pemerintah dalam menciptakan lingkungan bisnis yang mendukung. "Penciptakan iklim usaha itu dapat dilakukan dengan cara memperbanyak ventura, menurunkan modal dasar pendirian perseroan terbatas (PT), dan suku bunga dipaksa turun." tegas dia. Sementara itu Deputi Bidang Kemiskinan, Ketenagakerjaan, dan UKM Bappenas Prasetijono mengakui, PHK banyak terjadi pada usaha besar dan menengah, khususnya pada industri tekstil, sepatu, dan garmen (pakaian jadi) untuk tujuan ekspor. Sebaliknya, UKM dinilai masih berpeluang tumbuh pada tahun ini. "Kalau perekonomian domestik bisa tetap bergerak dengan berbagai stimulus dan program kredit usaha kecil (KUK) kluster tiga , UKM masih bisa tumbuh," jelasnya. |











