| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 1219172| ILO : 2009 Unemployment To Rise By 650 Thousand |
|
|
| Monday, 02 February 2009 | |
|
JAKARTA - Organisasi Buruh Internasional (ILO) memprediksi angka pengangguran di Indonesia akan bertambah 170 ribu hingga 650 ribu orang pada 2009. Dengan demikian, angka pengangguran tahun ini bakal mencapai 8,5-9% dari total angkatan kerja. "Pemerintah harus mempercepat realisasi stimulus fiskal untuk mengantisipasi hal tersebut" kata Programme Manager ILO Jakarta Marcus Powell pada seminar sehari Serikat Buruh yang bertajuk Menyikapi Krisis Global di Jakarta, Selasa (3/2). Sesuai catatan ILO, Januari 2009, jumlah pengangguran telah bertambah 24 ribu orang. Angka itu masih akan meningkat lagi, karena jumlah pekerja yang berpotensi terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) mencapai 26 ribu orang. Perusahaan yang banyak melakukan PHK terutama yang berorientasi ekspor, seperti tekstil yang banyak terdapat di wilayah Jawa Barat. Menurut Marcus, beberapa perusahaan telah berupaya menghindari PHK dengan berbagai cara, seperti tidak melakukan rekrutmen, mengurangi jam lembur, serta mengubah status pekerja dari pegawai tetap menjadi kontrak.
Dia menambahkan, pembengkakan jumlah pengangguran juga dipicu oleh pergeseran pekerja dari sektor formal ke informal. Pergeseran tersebut diyakini juga akan meningkatkan angka kemiskinan. "Kelompok penganggur yang bakal meningkat adalah kelompok muda sekitar 25%, yang kesulitan memasuki pasarkerja. Mereka mungkin cuma bisa masuk ke pekerjaan paruh waktu," ucap dia. Marcus melihat dampak krisis global juga telah berimplikasi terhadap pekerja migran di negara yang terkena dampak krisis lebih dalam ketimbang Indonesia, seperti Malaysia dan Korea Selatan. Itu akan mengurangi devisa negara dan melemahkan daya beli masyarakat "Dampak krisis lainnya adalah banyaknya angkatan kerja anak-anak, karena orangtua yang di PHK membiarkan anaknya bekerja," paparnya. Manfaatkan Isu Krisis Di sisi lain, Ketua Bidang Luar Negeri DPP Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Helmy Salim mengungkapkan, ada indikasi perusahaan memanfaatkan isu krisis global untuk mem-PHK karyawan. "Dampak murni dari krisis finansial seharusnya baru terjadi pada April 2009, tapi dengan dalih perusahaan goyah saat ini PHK sudah marak," katanya. Namun dia menengarai, ada beberapa faktor yang menyebabkan kinerja perusahaan menurun. Faktor itu adalah perusahaan tidak mampu bersaing dengan produk Tiongkok, keamanan yang tidak kondusif pemilu, banyaknya uang siluman, infrastruktur yang masih kacau, dan ketersediaan Kstrik yang belum maksimal. Dihubungi terpisah, Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Arizal Ahnaf mengatakan, pemerintah perlu mempercepat dan mengarahkan stimulus fiskal pada kegiatan-kegiatan yang bisa mengurangi jumlah PHK. "Jika itu bisa dilaksanakan, antisipasi terhadap PHK akan efektif," ungkapnya. Arizal juga menilai, PHK yang dianalisis ILO lebih mencerminkan kondisi pengangguran di sektor formal. Sedangkan untuk sektor informal dinilai lebih bisa bertahan terhadap dampak krisis global. Sementara itu, Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika mengatakan, saat ini pemerintah perlu fokus pada tiga sektor yaitu pertanian, infrastruktur, dan industri padat karya. "Jika pemerintah konsisten menstimulasi tiga sektor itu, dipastikan tenaga kerja yang terserap akan signifikan," katanya. Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa mendesak pemerintah agar mempercepat pembangunan proyek infrastruktur. Sebab, pembangunan infrastruktur akan menyerap tenaga kerja lebih banyak. |











