| Beranda |
| Tentang Kami |
| Unit Usaha |
| Sumber Daya Manusia |
| Tanggung Jawab Sosial |
| Berita |
| Peta Situs |
| Hubungi Kami |
| Pencarian |
| Karir |
Statistics
Pengunjung: 1219290| Perumnas-Bosowa Bangun Rusunami |
|
|
| Tuesday, 24 February 2009 | |
|
Oleh Wahyu Sudoyo
JAKARTA
- Perum Perumnas menggandeng anak usaha Bosowa Corporation yakni PT
Indah Bumi Bosowa, membangun rumah susun sederhana milik (rusunami) dan
rumah tapak di Makassar, Sulawesi Selatan. Nilai investasi proyek ini
diperkirakan mencapai Rp 250 miliar. Dalam kerja sama ini, Perumnas
akan menangani pembangunan maupun pemasaran perumahan dan rusunami yang
memanfaatkan lahan seluas 20 hektare milik Bosowa. Direktur Utama Perum
Perumnas Himawan Arif mengatakan, kerja sama antara badan usaha milik
negara (BUMN) dengan pihak swasta akan mewujudkan sinergi yang
menguntungkan bagi kedua pihak. "MoU antara Perumnas dan Bosowa ini
tidak hanya mencakup kerja sama pembangunan rusunami, tetapi juga cross
sharing untuk rusunami dan perumahan," jelasnya usai acara
penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Perumnas dan Bosowa di
Jakarta, Senin (23/2). Dia menambahkan, kerja sama ini sejalan dengan
program kerja Perumnas yang memperbanyak rusun di luar Jabodetabek.
Pada tahap awal,
Perumnas akan membangun dua menara rusunami dari rencana tiga menara
rusunami di atas lahan seluas 9.000 m di kawasan Panakukang, Makassar.
Direktur Pemasaran Perumnas Teddy Robinson mengatakan, dua menara
rusunami itu rencananya berketinggian 12 dan 1S lantai. CEO Bosowa
Corporation Erwin Aksa menjelaskan, peluang pembangunan perumahan
rakyat dalam situasi resesi ekonomi sekarang masih terbuka karena
masyarakat masih mempunyai daya beli yang cukup. Oleh karena itu.
lanjut dia, kerja sama ini juga akan mencakup sebagian lahan milik
Bosowa yang tersebar di berbagai penjuru kota Makassar, yang sebagian
berbatasan langsung dengan lahan milik Perumnas. "Kami, perusahaan yang
berbasis di Makassar, memilih bersinergi dengan BUMN yang menjadi ujung
tombak pembangunan perumahan rakyat. Soal peluang pada saat krisis
sekarang ini, hanya perumahan rakyatlah yang bisa eksis karena daya
beli masih ada, masyarakat masih menjadikan perumahan ini sebagai
kebutuhan utama ketimbang perumahan mewah," ujarnya. Himawan
optimistis, rusunami bersubsidi dengan harga maksimal Rp 144 juta per
unit di Makassar akan direspons pasar. Sebab, harga rumah tapak di
wilayah ini sudah tinggi, yakni di atas Rp 250 juta per unit "Kami
optimistis rusunami ini akan diminati masyarakat Makassar karena
lokasinya di pusat kota. Rumah vertikal akan memiliki daya tarik
tinggi, asalkan pengembang mampu membuat perencanaan dengan baik,"
ujarnya. Untuk rumah tapak, Perumnas dan Bosowa Group berkolaborasi
mengembangkan lahan seluas 20 hektare di Tamalanrea, Makassar. Di lahan
itu akan dibangun rumah tipe 36-150, dengan harga mulai Rp 100 juta per
unit, yang menyasar konsumen kelas menengah.
Menurut
catatan Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera), sebanyak 314
menara rumah susun sederhana milik (rusunami) akan dan sedang dibangun
tahun ini. Namun, baru 17 menara di antaranya yang sudah memiliki bdn
mendirikan bangunan 0MB). Pengamat properti Panangian Simanungkalit
menyarankan, pemerintah tetap menjaga kesinambungan percepatan
pembangunan rusunami serta memperkuat daya beli konsumen. Hal itu
diperlukan untuk mengantisipasi kelesuan pasar perumahan kelas menengah
bawah. "Ancaman pemutusan hubungan kerja, syarat tenor KPR yang
diperketat menjadi di bawah 15 tahun, serta persyaratan uang muka
diperbesar menjadi 30%, akan menghambat laju permintaan hunian.
Apalagi, kemampuan masyarakat menyediakan uang muka dan membayar
cicilan juga menurun," ujar Panangian. Menurut Panangian, tingkat suku
bunga konstruksi, perizinan, rancang bangun, serta harga bahan bangunan
menjadi penentu keberlanjutan pasokan rusunami. Tahun ini, menurut dia,
sektor properti komersial bakal stagnan, yang dipicu oleh kelebihan
suplai dan keadaan ekonomi yang menurun. "Siklus bisnis properti akan
kembali bangkit saat BI rate turun ke kisaran 6,5-7% dan diikuti suku
bunga KPR 9,5-10%. Titik pertemuan penurunan suku bunga itu akan
menciptakan keseimbangan baru dan mendorong penawaran dan permintaan
kembali meningkat padu 2010-2012," kata Panangian.
|











