| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 695742| Potensi Perang Harga pada Industri Semen |
|
|
| Monday, 02 March 2009 | |
|
Dewasa ini, perekonomian kita masih ditandai dengan tingginya tingkat bunga dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sehingga menggoyahkan selera untuk melakukan investasi. Sektor industri semen kemungkinan akan terpukul dengan kondisi perekonomian sekarang. Dengan kecenderungan melemahnya permintaan semen karena kondisi ekonomi yang belum kondusif, tercipta kondisi oversupply. Biasanya, pada kondisi seperti ini, pemain semen akan terpancing untuk melakukan penurunan harga guna meningkatkan volume penjualan. Apakah ini merupakan strategi yang tepat bagi produsen semen? Permintaan semen dipengaruhi oleh dua variabel, yaitu daya beli dan tingkat suku bunga. Sejauh ini daya beli masyarakat telah mendapat stimulus dari pemerintah melalui berbagai mekanisme anggaran.
Sebagai contoh, seiring dengan menurunnya harga minyak bumi di pasaran internasional. Pemerintah Indonesia telah menurunkan harga jual premium di SPBU sebanyak tiga kali hingga pada tingkat sekarang Rp 4.500 per liter. Pemerintah juga melakukan penurunan pajak pendapatan perseorangan. Oleh karena itu, pemerintah telah melakukan stimulus daya beli masyarakat melalui serangkaian kebijaksanaan fiskal. Ini berarti daya beli pada tingkat perseorangan atau ritel relatif terjaga. Akan tetapi, beda halnya pada tingkat perusahaan. Tingkat bunga yang masih relatif tinggi akan memengaruhi permintaan akan perumahan karena mahalnya kredit bank melalui KPR
Meskipun Bank Indonesia telah melakukan penurunan suku bunga acuan sebesar 125 basis poin dari titik tertinggi, bunga pinjaman belum memberikan respons yang seimbang. Untuk perusahaan konstruksi, tingginya biaya bunga akan mengganggu perkembangan usaha yang disebabkan mahal-nya biaya untuk modal kerja. Perusahaan konstruksi biasanya membutuhkan modal kerja yang cukup besar. Tingginya tingkat bunga juga akan memengaruhi perusahaan properti, baik dari sisi mahalnya modal kerja dan rendahnya permintaan karena mahalnya KPR Faktor ketiga yang juga dapat memengaruhi permintaan semen adalah proyek infrastruktur dari pemerintah. Sejauh ini pemerintah telah melakukan alokasi dana melalui APBN guna meningkatkan investasi pada sektor infrastruktur. Akan tetapi, pencairan dana maupun pengerjaan proyek infrastruktur masih berjalan lambat Ini berarti industri semen akan berada di bawah tekanan. Kondisi ini bisa berbalik apabila pemerintah benar-benar mampu mempercepat investasi di bidang infrastruktur.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa permintaan semen cenderung berada dalam tekanan. Permintaan semen pada Januari masih mencapai 3,1 juta ton dengan harga jual yang masih relatif tinggi sekitar Rp 700.000 per/ton. Industri semen mempunyai karakteristik khusus di mana hampir 90 persen pasar dikuasai hanya oleh tiga pemain besar, yaitu Semen Gresik Group, Indocement, dan Holcim Indonesia. Ketiga perusahaan itu mempunyai kapasitas produksi hampir 43 juta ton per tahun. Secara nasional, kapasitas produksi mencapai 47 juta ton per tahun. Pada tahun 2005, pada saat melemahya permintaan semen dikarenakan dikurangi-nya subsidi BBM, para pemain semen di pasar domestik terlibat perang harga. Pada saat itu, diharapkan bahwa penurunan harga dapat memicu permintaan. Namun, yang terjadi sebaliknya, permintaan tidak meningkat secara signifikan dan pabrik semen menikmati margin laba yang semakin tipis. Saat ini dengan antisipasi melemahnya permintaan semen, dikhawatirkan memicu perang harga kembali. Berapakah sebenarnya batas ambang permintaan sebelum produsen semen terpancing untuk melakukan perang harga?
Titik impas dari suatu pabrik semen berada pada level 55 per-sen-60 persen dari kapasitas produksi. Ini berarti jika suatupabrik beroperasi dengan tingkat utilitas 60 persen, pabrik itu telah mencapai titik impas. Agar industri semen tetap terjaga kesinambungannya, seluruh industri harus mempunyai utilitas minimal 60 persen. Bila diasumsikan seluruh pabrik semen beroperasi dengan tingkat utilitas seperti itu, produksi keseluruhan industri ini akan mencapai sekitar 28 juta ton. Ini berarti rata-rata produksisetiap bulan mencapai 2, 4 juta ton, di mana ini menjadi batas ambang. Bila produksi bulanan jatuh di bawah 2,4 juta ton (dengan asumsi struktur biaya seperti dewasa ini), produsen semen akan memikirkan strategi untuk meningkatkan volume penjualan. Penurunan harga menjadi suatu pilihan strategi yang tidak memakan biaya tambahan. Pada akhir tahun 2005, pemerintahmenaikkan harga jual BBM sehingga menciptakan laju inflasi yang cukup tinggi. Di samping melemahnya daya beli masyarakat, tingkat bunga juga melonjak. Kedua hal ini memengaruhi permintaan semen. Pada saat produksi semen melewati batas ambang 2,4 juta per bulan, yaitu pada November 2005,Januari 2006, Februari 2006,dan April 2006, salah satuprodusen semen berinisiatif menurunkan harga jual. Pesaing lainnya melakukan hal yang sama. Meskipun harga jual sudah diturunkan secara signifikan, kenaikan permintaan relatif kecil. Ini berakibat pada perang harga yang lebih agresif. Akibatnya, produsen semen merasakan keuntungan perusahaan semakin terkikis akibat menipisnya margin keuntungan dan tidak bertambah volume penjualan secara signifikan.
Sekarang ini kita berada pada kondisi yang lebih kurang sama, di mana tingkat bunga masih relatif tinggi Namun, harga BBM telah turun cukup signifikan sehingga memberikan ruang untuk permintaan yang lebih kuat. Akan tetapi, bila permintaan semen jatuh di bawah 2,4 juta dalam kurun 4-5 bulan berturut-turut, diperkirakan akan ada produsen semen yang tergoda menurunkan harga jual. Jika itu terjadi, dipastikan produsen yang lain akan melakukan hal yang sama dan berlomba-lomba menjadi yang termurah. Dampak langsung terhadap masing-masing produsen adalah penurunan tingkat margin kentungan. Bila itu terjadi, keuntungan produsen semen akan terpangkas lagi. Pada saat semen menjadi murah, seseorang tidak akan mengonsumsi semen melebihi kebutuhannya. Meski semen diturunkan harganya, tidak akan terjadi pertumbuhan permintaan yang signifikan. Struktur pasar yang unik dapat menyebabkan perang harga yang berkelanjutan di industri semen. Ini tentu merupakan berita yang menggembirakan bagi pemakai semen karena mendapat harga yang murah. Sebaliknya bagi produsen semen, penurunan harga akan mengancam profitabilitas. Pada saat permintaan lemah, penurunan harga tak dapat menaikkan volume penjualan. Jadi, penurunan harga bukan merupakan solusi tepat bagi industri semen di tengah terjadinya penurunan permintaan. Oleh. CHANDRA PASARIBU Equity Research Analyst.
|











