| Beranda |
| Tentang Kami |
| Unit Usaha |
| Sumber Daya Manusia |
| Tanggung Jawab Sosial |
| Berita |
| Peta Situs |
| Hubungi Kami |
| Pencarian |
| Karir |
Statistics
Pengunjung: 1220313| Potensi Perang Harga pada Industri Semen |
|
|
| Monday, 02 March 2009 | |
|
Dewasa ini, perekonomian kita masih ditandai dengan tingginya tingkat
bunga dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sehingga
menggoyahkan selera untuk melakukan investasi. Sektor industri semen
kemungkinan akan terpukul dengan kondisi perekonomian sekarang. Dengan
kecenderungan melemahnya permintaan semen karena kondisi ekonomi yang
belum kondusif, tercipta kondisi oversupply. Biasanya, pada kondisi
seperti ini, pemain semen akan terpancing untuk melakukan penurunan
harga guna meningkatkan volume penjualan. Apakah ini merupakan strategi
yang tepat bagi produsen semen? Permintaan semen dipengaruhi oleh dua
variabel, yaitu daya beli dan tingkat suku bunga. Sejauh ini daya beli
masyarakat telah mendapat stimulus dari pemerintah melalui berbagai
mekanisme anggaran.
Sebagai contoh, seiring dengan menurunnya harga minyak bumi di pasaran
internasional. Pemerintah Indonesia telah menurunkan harga jual premium
di SPBU sebanyak tiga kali hingga pada tingkat sekarang Rp 4.500 per
liter. Pemerintah juga melakukan penurunan pajak pendapatan
perseorangan. Oleh karena itu, pemerintah telah melakukan stimulus daya
beli masyarakat melalui serangkaian kebijaksanaan fiskal. Ini berarti
daya beli pada tingkat perseorangan atau ritel relatif terjaga. Akan
tetapi, beda halnya pada tingkat perusahaan. Tingkat bunga yang masih
relatif tinggi akan memengaruhi permintaan akan perumahan karena
mahalnya kredit bank melalui KPR
Meskipun Bank
Indonesia telah melakukan penurunan suku bunga acuan sebesar 125 basis
poin dari titik tertinggi, bunga pinjaman belum memberikan respons yang
seimbang. Untuk perusahaan konstruksi, tingginya biaya bunga akan
mengganggu perkembangan usaha yang disebabkan mahal-nya biaya untuk
modal kerja. Perusahaan konstruksi biasanya membutuhkan modal kerja
yang cukup besar. Tingginya tingkat bunga juga akan memengaruhi
perusahaan properti, baik dari sisi mahalnya modal kerja dan rendahnya
permintaan karena mahalnya KPR Faktor ketiga yang juga dapat
memengaruhi permintaan semen adalah proyek infrastruktur dari
pemerintah. Sejauh ini pemerintah telah melakukan alokasi dana melalui
APBN guna meningkatkan investasi pada sektor infrastruktur. Akan
tetapi, pencairan dana maupun pengerjaan proyek infrastruktur masih
berjalan lambat Ini berarti industri semen akan berada di bawah
tekanan. Kondisi ini bisa berbalik apabila pemerintah benar-benar mampu
mempercepat investasi di bidang infrastruktur.
Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa permintaan semen cenderung berada dalam
tekanan. Permintaan semen pada Januari masih mencapai 3,1 juta ton
dengan harga jual yang masih relatif tinggi sekitar Rp 700.000 per/ton.
Industri semen mempunyai karakteristik khusus di mana hampir 90 persen
pasar dikuasai hanya oleh tiga pemain besar, yaitu Semen Gresik Group,
Indocement, dan Holcim Indonesia. Ketiga perusahaan itu mempunyai
kapasitas produksi hampir 43 juta ton per tahun. Secara nasional,
kapasitas produksi mencapai 47 juta ton per tahun. Pada tahun 2005,
pada saat melemahya permintaan semen dikarenakan dikurangi-nya subsidi
BBM, para pemain semen di pasar domestik terlibat perang harga. Pada
saat itu, diharapkan bahwa penurunan harga dapat memicu permintaan.
Namun, yang terjadi sebaliknya, permintaan tidak meningkat secara
signifikan dan pabrik semen menikmati margin laba yang semakin tipis.
Saat ini dengan antisipasi melemahnya permintaan semen, dikhawatirkan
memicu perang harga kembali. Berapakah sebenarnya batas ambang
permintaan sebelum produsen semen terpancing untuk melakukan perang
harga?
Titik impas dari
suatu pabrik semen berada pada level 55 per-sen-60 persen dari
kapasitas produksi. Ini berarti jika suatupabrik beroperasi dengan
tingkat utilitas 60 persen, pabrik itu telah mencapai titik impas. Agar
industri semen tetap terjaga kesinambungannya, seluruh industri harus
mempunyai utilitas minimal 60 persen. Bila diasumsikan seluruh pabrik
semen beroperasi dengan tingkat utilitas seperti itu, produksi
keseluruhan industri ini akan mencapai sekitar 28 juta ton. Ini berarti
rata-rata produksisetiap bulan mencapai 2, 4 juta ton, di mana ini
menjadi batas ambang. Bila produksi bulanan jatuh di bawah 2,4 juta ton
(dengan asumsi struktur biaya seperti dewasa ini), produsen semen akan
memikirkan strategi untuk meningkatkan volume penjualan. Penurunan
harga menjadi suatu pilihan strategi yang tidak memakan biaya tambahan.
Pada akhir tahun 2005, pemerintahmenaikkan harga jual BBM sehingga
menciptakan laju inflasi yang cukup tinggi. Di samping melemahnya daya
beli masyarakat, tingkat bunga juga melonjak. Kedua hal ini memengaruhi
permintaan semen. Pada saat produksi semen melewati batas ambang 2,4
juta per bulan, yaitu pada November 2005,Januari 2006, Februari
2006,dan April 2006, salah satuprodusen semen berinisiatif menurunkan
harga jual. Pesaing lainnya melakukan hal yang sama. Meskipun harga
jual sudah diturunkan secara signifikan, kenaikan permintaan relatif
kecil. Ini berakibat pada perang harga yang lebih agresif. Akibatnya,
produsen semen merasakan keuntungan perusahaan semakin terkikis akibat
menipisnya margin keuntungan dan tidak bertambah volume penjualan
secara signifikan.
Sekarang ini kita
berada pada kondisi yang lebih kurang sama, di mana tingkat bunga masih
relatif tinggi Namun, harga BBM telah turun cukup signifikan sehingga
memberikan ruang untuk permintaan yang lebih kuat. Akan tetapi, bila
permintaan semen jatuh di bawah 2,4 juta dalam kurun 4-5 bulan
berturut-turut, diperkirakan akan ada produsen semen yang tergoda
menurunkan harga jual. Jika itu terjadi, dipastikan produsen yang lain
akan melakukan hal yang sama dan berlomba-lomba menjadi yang termurah.
Dampak langsung terhadap masing-masing produsen adalah penurunan
tingkat margin kentungan. Bila itu terjadi, keuntungan produsen semen
akan terpangkas lagi. Pada saat semen menjadi murah, seseorang tidak
akan mengonsumsi semen melebihi kebutuhannya. Meski semen diturunkan
harganya, tidak akan terjadi pertumbuhan permintaan yang signifikan.
Struktur pasar yang unik dapat menyebabkan perang harga yang
berkelanjutan di industri semen. Ini tentu merupakan berita yang
menggembirakan bagi pemakai semen karena mendapat harga yang murah.
Sebaliknya bagi produsen semen, penurunan harga akan mengancam
profitabilitas. Pada saat permintaan lemah, penurunan harga tak dapat
menaikkan volume penjualan. Jadi, penurunan harga bukan merupakan
solusi tepat bagi industri semen di tengah terjadinya penurunan
permintaan. Oleh. CHANDRA PASARIBU Equity Research Analyst.
|











