| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 1219167| Pasar Modal Serap Rp 100 T |
|
|
| Monday, 02 March 2009 | |
|
Oleh Eva Fitriani dan Jauhari Mahardika
JAKARTA- Bursa Efek Indonesia optimistis bisa menghimpun dana masyarakat Rp 100 triliun tahun ini atau naik dibandingkan realisasi 2008 senilai Rp 92,03 triliun. Dana itu diperoleh dari hasil penawaran umum perdana (initial public offeringAPO) saham, emisi obligasi, dan penawaran saham baru (rights issue). Aliran dana tersebut diharapkan turut menopang target pertumbuhan ekonomi sekitar 4-5% tahun ini. Otoritas bursa menargetkan 15 emiten baru, turun dari 19 perusahaan pada 2008. Data Badan Pengawas Pasar Modal dan lambaga Keuangan (Bapepam-LK) menyebutkan, pada 2008 total dana yang dihimpun melalui IPO saham mencapai Rp 23.71 triliun, melonjak tajam dari Rp 17,18 triliunpada 2007. Emisi obligasi tercatat Rp 12,86 triliun, turun dari periode sama 2007 Rp 31.28 triliun Sedangkan rights issue dan waran bernilai Rp 55.46 triliun, naik drastis dari 2007 sebesar Rp 27.89 triliun. "Kami tetap mengusahakan, pasar modal bisa menyumbang 10% terhadap sektor riil atau minimal sama seperti (ahun lalu, kendati tahun ini likuiditas sangat ketat." kata Dirut Bursa Efek Indonesia Erry Firmansyah di Jakarta. Rabu (25/2). Erry menegaskan, BEI akan lebih fokus menggiatkan pasar modal dalam negeri, terutama IPO dan emisi obligasi. Pasalnya, sebagian dana yang dihimpun dari hasil penerbitan saham dan surat utang akan digunakan untuk investasi dan ekspansi. Dihubungi terpisah. Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hartarto sependapat, pasar modal masih memiliki andil yang besar guna menggerakkan sektor riil. Namun, kata dia, kontribusinya tahun ini sulit mencapai target sebesar Rp 100 triliun. "Kemungkinan besar di bawah target karena kondisi pasar finansial global, khususnya pasar saham masih memburuk." kata dia. Menurut Airlangga, emiten sulit mencari dana dari pasar modal, sehingga perusahaan hanya mengerjakan proyek-proyek yang ada, tanpa ekspansi baru. Tapi, lanjut dia, kepastian kontribusi dari pasar modal terhadap sektor riil baru dapat diketahui pada semester kedua mendatang. Hingga kuartal 1-2009, total emisi IPO, rights issue, dan obligasi korporasi hampir dipastikan mencapai Rp 4,3 triliun. Dana itu berasal dari emisi obligasi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) senilai Rp 2,2 triliun, PT Astra Sedaya Rp 600 miliar, PT Matahari Putra Prima Tbk Rp 500 miliar, PT Danareksa Rp300 miliar, dan PT Indomobil Finance Rp 500 miliar. Selain itu, PT Star Pacific Tbk sudah melakukan rights issue Rp 100,11 miliar dan IPO saham PT Alfaria Sumber Trijaya Tbk Rp 135,5 miliar. Tapi, nilai tersebut anjlok tajam dibandingkan pada kuartal 1-2008 senilai Rp 54,8 triliun. Dari target 15 IPO saham emiten baru 2009, lima merupakan BUMN, yakni PT Krakatau Steel, PT Perkebunan Nusanatara (PTPN) III, IV, dan VIII. Krakatau Steel sebelumnya menargetkan nilai IPO Rp 4 triliun. Sedangkan masing-masing PTPN mengincar Rp 2 triliun, Rp 3 triliun, dan Rp 1,5 triliun. Jika digabung dengan rencana IPO saham PT Bank Tabungan Negara Rp 2 triliun, kelima BUMN itu bakal menghimpun dana sekitar Rp 12,5 trilun. BUMN lain yang dijadwalkan melepas sebagian sahamnya tahun iniadalah PT Pembangunan Perumahan. Nilai IPO saham yang cukup besar diharapkan berasal dari PT Berau Coal, perusahaan pertambangan batubara, pada semester 11-2009. Dirut Makinta Securities Vincet Wijaya mengatakan, pihaknya tetap melanjutkan IPO saham sejumlah perusahaan tahun ini yang sempat tertunda pada 2008. Beberapa di antara calon emiten itu adalah PT Adira Selaras Abadi (daily bread), PT Murinda Iron Steel, dan PT Sarana Steel Corporation. Selain itu, Makinta akan membawa beberapa perusahaan yang menerbitkan oblilgasi. Pasalnya, investasi pada obligasi masih lebih atraktif dibandingkan menempatkan dana pada deposito, menyusul tren penurunan BI rate. "Selisih spread antara suku bunga perbankan dan kupon obligasi berkisar 6-8%, sehingga dana perbankan dianggap lebih mahal," ujar dia kepada Investor Daily, kemarin. Beberapa perusahaan yang berkomitmen menerbitkan saham baru terdiri atas PT Bank Danamon Tbk senilai Rp 4 triliun, PT Excelcomindo Pratama Tbk, dan PT Bank Agroniaga Tbk. PT Bumi Resources Tbk juga berniat melaksanakan rights issue. Namun, beberapa perusahaan terpaksa menunda rencana IPO 2009. Sebab, kondisi pasar modal dalam negeri belum stabil, seiring krisis finansial global, seperti PT Garuda Food Putra Putri Jaya, anak usaha Grup Garuda Food, dan PT Semen Bosowa. IPO saham terbesar 2008 berasal dari sektor pertambangan batubara, antara lain PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indika Energy Tbk (INDY), dan PT Bayan Resources Tbk (BAYAN). Ketiga perusahaan menyumbangkan sekitar Rp 21,3 triliun. Sementara itu. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengakui, sektor riil saat ini membutuhkan stimulus dari pemerintah dan swasta, termasuk pasar modal. Namun, dia mengungkapkan, lambatnya ekspansi perusahaan terbuka tahun ini turut memengaruhi kontribusinya terhadap sektor riil. "Harus diakui, pasar modal berkontribusi cukup besar terhadap sektor riil. Tapi, tahun ini, tidak akan terlalu besar," ujar dia. Sofjan meminta pemerintah serius merealisasikan paket stimulus fiskal dan moneter supaya sektor riil bisa bangkit. Dia khawatir, momentum pemilu akan mengganggu konsentrasi pemerintah dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi. Obligasi Marak Direktur BEI Guntur Pasaribu menambahkan, aliran dana pasar modal ke sektor riil akan ditopang dari hasil penerbitan obligasi pemerintah dankorporasi. Dia memperkirakan, emisi surat utang kembali booming, karena suku bunga cenderung turun tahun ini. "Suksesnya penerbitan obligasi PLN sebesar Rp 22 triliun dan sukuk ritel Rp 5,6 triliun menandakan kepercayaan investor terhadap pasar obligasi hampir pulih," tegas Guntur. Menurut dia, puncak penerbitan obligasi korporasi akan terjadi pada semester 11-2009. Total dana yang dihimpun dari emisi obligasi ditaksir bisa menembus Rp 20 triliun. Pendapat senada diungkapkan pengamat pasar modal Dandossi Matram. Aliran dana yang cukup efektif menggerakkan sektor riil 2009 adalah pasar obligasi baik dari pemerintah maupun swasta. Apalagi, banyak perusahaan swasta dan BUMN sektor perbankan, infrastruktur, dan pembiayaan (multifinance) yang merupakan motor penggerak sektor riil menerbitkan obligasi. "Secara tidak langsung, dana yang dihimpun bank dari hasil emisi obligasi dapat disalurkan lagi pada sektor riil. Dengan demikian, perusahaan infrastruktur dapat kembali menjalankan sejumlah proyeknya," jelas Dandossi, (ko) |











