| Beranda |
| Tentang Kami |
| Unit Usaha |
| Sumber Daya Manusia |
| Tanggung Jawab Sosial |
| Berita |
| Peta Situs |
| Hubungi Kami |
| Pencarian |
| Karir |
Statistics
Pengunjung: 1219294| Melirik Sistem Ekonomi yang Lebih Tahan Banting |
|
|
| Monday, 02 March 2009 | |
|
Ririn Radiawati Kusuma Karena berbasis transaksi riil, sistem ekonomi Islam menjadi lebih tahan banting terhadap imbas krisis. LULUH lantaknya perekonomian global akibat kejatuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) mengingatkan berbagai negara-negara di dunia akan adanya sistem ekonomi alternatif, yakni sistem ekonomi Islam atau syariah. Sistem ekonomi tersebut belakangan dinilai ternyata lebih resilien terhadap dampak krisis. Hal itu dikemukakan Wakil Presiden M Jusuf Kalla dalam pembukaan diskusi Young Leader Forum 2009 dan Businesswomen Forum 2009 di Jakarta, kemarin. Diskusi tersebut merupakan bagian dari penyelenggaraan 5th World Islam Economic Forum yang dibuka hari ini. "Krisis terakhir mengajarkan kita untuk menggunakan sistem ekonomi Islam," ujarnya. Kalla mengaitkan ketanggu-han sistem ekonomi itu dengan kultur perdagangan. Menurutnya, falsafah perdagangan dalam sistem ekonomi Islam adalah transaksi riil (nyata). "Sistem real transaction ternyata lebih bisa bertahan menghadapi krisis. Maka tidak mengherankan bila negara Islam tidak menghadapi masalah serius pada krisis jika dibandingkan dengan negara lain," kata dia. Kalla juga menambahkan, sebagian besar negara muslim memiliki sumber daya alam yang bagus, khususnya minyak. Namun, bila tidak disertai dengan daya wirausaha yang tinggi dan kerja sama, kelebihan itu tidak akan bermanfaat. Sementara itu. Direktur Bank Mandiri Abdul Rachman menilai ketahanan sistem ekonomi Islam menjadikan negara-negara TimurTengah masih kaya akan likuiditas. Hal itu, merupakan peluang yang harus lekas dimanfaatkan Indonesia. "Sistem ekonomi syariah kan lebih kuat. Seharusnya mereka tidak mengalami masalah. Berbeda dengan negara-negara Barat yang kesusahan, kemarin, karena transaksi ekonominya bersifat bubble sehingga nilai transaksinya tidak sesuai dengan financialnya." Adapun sejak sekitar satu setengah dasawarsa lalu, sistem ekonomi syariah telah ditawarkan pelaku industri keuangan di dalam negeri sebagai alternatif bagi masyarakat. Pelan tapi pasti, minat terhadap sistem ekonomi itu meningkat. Seperti bisa terlihat dari pertumbuhan perbankan syariah nasional yang mencapai 30%.
Hal itu, menurut Abdul Rachman, menunjukkan kontribusi perbankan
syariah bagi penguatan perekonomian nasional. Khususnya pada skala
kecil dan menengah. Namun, imbuhnya, tidak berarti perbankan syariah
tidak siap untuk menangani pembiayaan investasi yang berskala besar. Ia
mencontohkan Bank Syariah Mandiri sebagai bank syariah dengan pangsa
pasar terbesar kini memiliki kemampuan untuk berpartisipasi dalam
investasi berskala besar.
Hadapi kendala Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa mengungkapkan masih banyak masalah yang membuat investor Timteng enggan masuk. "Proyek-proyek (di Indonesia) yang ditawarkan ke investor Timteng kerap berkendala dan tidak menarik," kata dia. Erwin memaparkan investasi di Tanah Air kerap dihantui isu-isu gangguan keamanan, instabilitas politik, dan birokrasi. Akibatnya, investor memilih masuk ke pasar obligasi atau korporasi yang telah mapan. "Kesempatan ini harusnya digunakan oleh pemerintah dan swasta untuk lebih sensitif atas kemauan investor Timteng."la mengingatkan, investor Timteng tidak nanya berpatokan pada perhitungan angka semata, tetapi juga mengutamakan hubungan emosional antara Indonesia dan Timteng. (Tup/E-3) Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya |











