| Beranda |
| Tentang Kami |
| Unit Usaha |
| Sumber Daya Manusia |
| Tanggung Jawab Sosial |
| Berita |
| Peta Situs |
| Hubungi Kami |
| Pencarian |
| Karir |
Statistics
Pengunjung: 1219313| RI Bisa Lepas dari Ketergantungan Asing |
|
|
| Tuesday, 03 March 2009 | |
|
Oleh Iwan Subarkah
BANDUNG - Wakil Presiden (Wapres) M Jusuf Kalla menegaskan, Indonesia tidak perlu bergantung lagi terhadap kemampuan dan tenaga ahli asing pada teknologi informasi (TI) dan industri. Pasalnya, kemampuan dan sumber daya dalam negeri telah memadai pada kedua sektor tersebut. "Di Alaska saja yang sangat dingin, banyak orang Indonesia bekerja. Tapi, di Indonesia kita justru mengundang orang asing untuk mengelola minyak," kata dia pada pidato acara Dies Natalies ke-50 Institut Teknologi Bandung (ITB) di Bandung, Senin (2/3). Jusuf Kalla mencontohkan, pembangunan bandara baru di Makassar telah menggunakan semua lulusan ITB. Oleh karena itu, dia meminta, ketergantungan tenaga asing segera dikurangi. "Jangan jadi bangsa yang terpinggirkan dan dipandang sebelah mata. Waktu tinggal setahun. Kita sudah merdeka lebih dari 60 tahun, membuat airport saja tidak bisa. Ke mana para insinyur ITB," tandas dia. Wapres juga menyayangkan industri Indonesia berkiblat pada Tiongkok dan TI pada India. Padahal, Indonesia seharusnya menggantungkan cita-cita setinggi langit agar ada sesuatu yang dituju. Chip selalu berkembang. Begitu juga dengan ilmu-ilmu lain. Teknologi harus bersinergi dengan industri. Teknologi tanpa industri menjadi kebanggaan universitas saja. Kalau hanya industri, berarti hanya meniru. dan peniru pasti ketinggalan dan terlambat Jadi, kita harus percaya diri supaya bisa maju lebih cepat," tutur dia, seperti dikutip Antara. Jusuf Kalla mengajak masyarakat memanfaatkan otak, otot, dan kantungnya guna membangun negeri, sehingga tidak disentuh orang asing lagi. Dia menjelaskan, Indonesia terpaksa mengimpor beras, karena tidak memanfaatkan teknologi dan kurang adanya pengembangan bibit. Dihubungi terpisah, praktisi TI dan Ketua Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) Teddy Sukardi menilai, pasar TI dalam negeri memang belum besar, karena kesadaran terhadap TI belum merata. Di samping itu, teknologi belum sepenuhnya menjadi kebutuhan utama para pebisnis dan masyarakat Akibatnya, daya beli TI masih rendah.
Dia menjelaskan, perguruan tinggi masih menganggap teknologi sebagai
ilmu pengetahuan, bukan pendidikan profesi yang siap pakai. Terkait
banyaknya tenaga ahli domestik yang bekerja di luar negeri, Teddy
berpendapat, hal tersebut seiring tingginya permintaan, sehingga
peluang, penghargaan, dan gaji sangat besar dibandingkan dalam negeri.
Guna mengatasi hal itu, dia memin-ta pemerintah konsisten dalam
mengeluarkan regulasi aplikasi standar. Bahkan monopoli pemanfaatan TI,
seperti pembayaran tol dan parkir harus segera dihilangkan. Dia
mencontohkan, Hong Kong hanya menggunakan satu kartu yang bisa
digunakan untuk naik bus, feri, dan membeli makanan. "Pemerintah harus
memperkecil kesenjangan antara tenaga ahli yang dihasilkan dan
dibutuhkan pasar, termasuk pemanfaatan standar aplikasi, sehingga lebih
efisien dan tidak lagi terjadi pemborosan, seperti pemanfaatan open
source," jelas Teddy. |











