| Beranda |
| Tentang Kami |
| Unit Usaha |
| Sumber Daya Manusia |
| Tanggung Jawab Sosial |
| Berita |
| Peta Situs |
| Hubungi Kami |
| Pencarian |
| Karir |
Statistics
Pengunjung: 1219319| Ekspor Indonesia Merosot 36% |
|
|
| Tuesday, 03 March 2009 | |
|
Oleh Raja H Napitupuludan Thomas E Harefa
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia Januari 2009 merosot 36,08% dari USS 11,19 miliar pada Januari 2008 {year on year/yoy) menjadi US$ 7,15 miliar. Jika dibandingkan Desember 2008 (month to month/mom), nilai ekspor Januari terpangkas 17,70%. Bloomberg mencatat penurunan ekspor hingga 36% itu adalah yang terbesar selama Januari dalam 22 tahun terakhir. Krisis ekonomi global merupakan pemicu utama penurunan nilai ekspor Januari 2009. Kepala BPS Rusman Heriawan mengakui, nilai ekspor Januaribiasanya lebih rendah dibandingkan Desember. "Namun, dalam situasi perdagangan dunia yang lesu, penurunan ekspor Indonesia menjadi lebih tajam," ujar dia saatmenyampaikan Berita Resmi Statistik di Jakarta, Senin (2/3). Menanggapi kinerja ekspor Januari 2009. sejumlah kalangan mengingatkan, tren penurunan ekspor masih mungkin berlanjut karena ancaman proteksionisme negara-negara di dunia Hingga akhir tahun ini, nilai ekspor RI diprediksi bisa minus 15*. Namun, ada kemungkinan tekanan ekspor RI mereda seiring membaiknya ekonomi global terkait keseriusan pemerintah Amerika Serikat (AS) meluncurkan paket-paket stimulus ekonomi. Hal itu dikemukakan ekonom senior BNI Ryan Kiryanto, Direktur Danareksa Research Institute (DRI) Purbaya Yudhi Sadewa, ekonom Standard Chartered Bank (SCB) Erik Alexander Sugandi, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa, pengamat ekonomi Roy Sembel, Counselor for Economic Affairs Embassy of the USA Peter D Haas, mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli, dan profesor dari Northwestern University Jeffrey Winters secara terpisah di Jakarta, kemarin.
Menurut Rusman, ekspor nonmigas Januari 2009 tercatat US$ 6,21 miliar,
turun 16,67% (mom) dan merosot 30,6456 (yoy). Penumnan ekspor nonmigas
terbesar pada bahan bakar mineral US$ 191,9 juta. "Sedangkan
peningkatan ekspor nonmigas terbesar terjadi pada timah US$ 47,5 juta,"
ucap dia. Data BPS menunjukkan, tidak ada satu pun ekspor ke negara
tujuan yang meningkat Bahkan, yang paling besar penurunannya adalah
ekspor ke negara Asean. "Jadi semuanya kompak turun," ujar dia. Ekspor
nonmigas ke Jepang mencapai angka terbesar yaitu USS 788 juta, disusul
AS USS 772,3 juta, dan Singapura USS 594.5 juta, dengan kontribusi
ketiganya 34,72%. Sementaraitu, ekspor ke Uni Eropa (27 negara) USS
1,03 miliar. "Padahal, biasanya ekspor ke Jepang selalu di atas US$ 1
miliar," kata dia. |











