| Beranda |
| Tentang Kami |
| Unit Usaha |
| Sumber Daya Manusia |
| Tanggung Jawab Sosial |
| Berita |
| Peta Situs |
| Hubungi Kami |
| Pencarian |
| Karir |
Statistics
Pengunjung: 1220315| Terus Berharap Dana dari Timur Tengah |
|
|
| Wednesday, 04 March 2009 | |
|
Heru Prihmantoro Rina Garmina World Islamic Economic Forum (WIEF) Kelima resmi dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (2/3) lalu. Harapan menggaet dana dari negara-negara Timur Tengah menyeruak lagi. SEBUAH forum atau pertemuan memang dirancang agar anggota atau pesertanya saling berkomunikasi. Begitu juga dengan WIEF yang digelar untuk kelima kalinya dengan peserta dari berbagai negara. Karena merupakan forum ekonomi Islam, kesempatan berkomunikasi itu pun dimanfaatkan pemerintah Indonesia untuk kembali menggaet dana dari sejumlah negeri kaya minyak di jazirah Arab. Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa Mahmud menilai WIEF dapat membuka negara Islam, khususnya negara-negara Timur Tengah, tentang prospek usaha di Indonesia. Selain itu, pemimpin muda di forum WIEF dapatmengembangkan talenta agar memiliki tempat dan posisi yang baik secara global. Forum yang dihadiri lebih dari 1.500 peserta itu membicarakan peranan economic financing di dalam ekonomi global. Tentunya perlu ada adjus-ment-adjusment dari pemerintah. Dari sisi pasar melihat islamic financing terbilang cukup baru di financial market saat ini." Dengan kondisi perekonomian global saat ini, negara-negara Islam, khususnya negara-negara Timur Tengah, yang kelebihan uang menjadi tempat yang dicari pasar. Sejumlah negara tersebut dinilai masih memiliki kemampuan untuk meminjamkan dana mereka ke pasar. Agar bisa memanfaatkan potensi tersebut, menurut Erwin, Indonesia perlu instrumen atau infrastruktur keuangan yang kuat dan baik. Di sektor riil, saat ini Indonesia membutuhkan banyak dana untuk membiayai pembangunan infrastruktur. "Saya kira Timur Tengah-lah pilihan terbaik untuk bisa mendapatkan sumber pendanaan itu." Konsekuensinya, pemerintah harus memperbaiki regulasi-regulasi di dalam negeri dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang terkait dengan proyek-proyek tersebut. Terpenting, jelas Erwin, pemerintah juga haru,s memberikan jaminankeuntungan yang menarik kepada investor tersebut. "Karena, sumber-sumber uang dari Timur Tengah ini, tentunya mereka juga mencari return atau nilai pengembalian yang cukup tinggi." Langkah pemerintah mener-bitkan sukuk yang diserap investor Timur Tengah merupakan langkah positif yang mengemban tugas sebagai leading agent untuk mendapatkan sumber pendanaan. Kalangan pengusaha berharap pemerintah lebih banyak lagi mengeluarkan sukuk atau produk syariah sejenis yang bisa dimanfaatkan untuk merealisasikan proyek infrastruktur.
Tidak menarik Erwin mengakui hingga saat ini pihak swasta belum bisa memberikan proposal yang menarik bagi investor Timur Tengah. Padahal investor dari negara petro dolar itu mencari produk atau proyek yang nilainya ratusan juta dolar AS. "Nah, proyek-proyek itu di Indonesia sangat jarang. Kalaupun ada, biasanya return-nya terlalu kecil seperti proyek-proyek listrik, proyek-proyek jalan tol. Nilainya besar, tetapi risikonya tinggi dan return atau kepastian hukum sering kali mengganggu," keluh Erwin. Di sisi lain, pemerintah mengklaim investasi Timur Tengah di Indonesia terus meningkat. Meski data yang dilansir pe-merintah selalu saja berupa komitmen. "Selama ini, komitmen investor Timur Tengah untuk masuk Indonesia cukup besar," ujar Duta Besar Khusus Timur Tengah Alwi Shihab. Investasi Emaar Properties di Lombok antara US$600 juta dan US$1 miliar. Belum lagi yang Limit Plus dengan Bakrie Group, sekitar US$400 juta. Limit Plus adaJah anak perusahaan Dubai World. Tetapi berapa yang sudah terealisasi, kita belum tahu." Meski begitu, Alwi mengklaim proses investasi terus berlangsung di berbagai bidang, seperti TryingDoc senilai US$500 juta-US$600 juta yang merupakan kerja sama dengan pemerintah daerah Batam. Belum lagi, Qatar Islamic Bank dan Albaraka Bank yang sudah membuka cabang di Indonesia. Selain itu, Gulf Petroleum Ltd,yang membangun power plant, senilai US$300 juta. Belum lagi, investor dari Yaman, Arab Saudi. "Mereka membangun refinery untuk CPO dan plantation, kurang lebih senilai US$200 juta. Belum lagi grup dari Abu Dhabi yang membuka kantor di Indonesia untuk properti dan pertambangan senilai US$100 juta-US$150 juta. Berdasarkan perkiraan itu, total investasi TimurTengah di Indonesia, ujar Alwi, berkisar US$6 miliar-US$7 miliar termasuk investor di sektor agrobisnis yang akan masuk. Tapi, yang sudah pasti, US$6 juta. Telekomunikasi, Qtel, semua sudah masuk. Kalau itu dimasukkan, sudah bisa US$7 miliar-US$8 miliar. Menurut Alwi, investor Timur Tengah masuk ke Indonesia karena pasar di Indonesia besar dan pangsa pasar islamic financemasih terlalu kecil. Di samping itu, kalau ada pabrik di sini, investor-investor dari Timur Tengah akan lebih nyaman berhubungan dengan bank. Investor-investor itu juga melihat potensi di Indonesia lebih besar daripada di Malaysia. Itu menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan investasi. Indonesia saat ini merupakan negara yang paling padat di Asia dan mampu bertahan di tengah krisis ekonomi. "Jadi, investasi dari Malaysia bisa berpindah ke Indonesia," kata Alwi. Saat menanggapi hal itu, pengamat perbankan syariah Syafei Antonio menilai Indonesia tidak siap menerima investasi asing, khususnya Timur Tengah. Syafei mengisahkan pihaknya pernah mengundang 10 pengusaha Timur Tengah, tetapi yang datang satu pesa-wat. Para pengusaha Timur Tengah menilai Indonesia berpeluang jadi tempat investasi mereka. "Tetapi ternyata pemimpin BUMN hanya mengenalkan produk dan pejabat yang berwenang. Lalu para calon investor itu diminta menghubungi pejabat terkait untuk bisnis yang akan datang. Mereka pun kecewa." Sementara itu, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil berharap WIEF dapat memperkukuh persatuan di antara pengusaha muslim di dunia. "Pada program BUMN ke depan kami akan road show. Kami tawarkan kepada mereka, siapa tahu mereka tertarik untuk ikut," kata Sofyan.(S-4)
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
|











