| Home |
| About Us |
| Business Units |
| Human Resources |
| Corporate Social Responsibility |
| News |
| Sitemap |
| Contact Us |
| Search |
| Career |
Statistics
Visitors: 1219194| Penurunan Bunga Selamatkan Bank |
|
|
| Thursday, 05 March 2009 | |
|
Oleh Fathiya Dahrul dan Raja H Napitupulu JAKARTA - Bank Indonesia (BI) kembali memangkas tingkat suku bunga acuan (BI rate) sebesar 50 basis poin (bps) dari 8,25% menjadi 7,75%. Langkah itu dinilai dapat menyelamatkan industri perbankan dan perekonomian nasional secara keseluruhan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini, kebijakan suku bunga tinggi justru memperburuk industri perbankan maupun perekonomian nasional. Dalam kondisi krisis, suku bunga tinggi justru membahayakan kehidupan perbankan karena potensi kredit bermasalah (non performing loan/NPL) juga membengkak. "Sayangnya, perbankan justrumelakukan oligopoli dengan bersama-sama tidak mau menurunkan suku bunga. Ha! itu tentu akan membahayakan perekonomian nasional, dan pada gilirannya dapat membahayakan kinerja perbankan sendiri," kata Direktur Danareksa Research Institute (DRI) Purbaya Yudhi Sadewa kepada Investor Daily, Rabu (4/3). Hal senada diungkapkan Ketua Umum Kadin Indonesia MS Hidayat, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa, Direktur Indef Ahmad Erany Yustika, dan ekonom senior Bank BNI Ryan Kiryanto. Mereka sependapat, pemangkasan BI rate berdampak positif bagi dunia usaha bila segera diikuti penurunan suku bunga kredit.
Sebaliknya, kalangan perbankan mengungkapkan, suku bunga kredit tidak serta-merta turun, karena biaya dana masih mahal. Mereka berdalih ketatnya likuiditas di pasar telah menyulitkan bank untuk menurunkan suku bunga deposito. Gubernur BI Boediono berjanji akan melakukan sosialisasi dan pendekatan ke perbankan nasional agar mereka mau menurunkan tingkat suku bunganya. "Kami telah mempertimbangkan bahwa penurunan BI rate merupakan penyesuaian terbaik untuk saat ini. Namun, dampaknya ke penurunan suku bunga perbankan masih memerlukan waktu," ujar dia seusai Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, rabu (4/3). Bank sentral memutuskan untuk menurunkan BI rate sebesar 50 bps setelah mencermati dan mengevaluasi perkembangan ekonomi dan keuangan di dalam dan luar negeri. Perkembangan ekonomi global masih menunjukkan perlambatan yang lebih dalam. "Kondisi pasar keuangan global pun masih rapuh dengan semakin banyaknya laporan kerugian lembaga keuangan dunia," jelas Boediono. MS Hidayat dan Benny Soetrisno, kalangan perbankan sudah seharusnya menindaklanjuti sikap responsif bank sentral yang sudah tiga kali memangkas BI rate. Perbankan nasional mesti menurunkan suku bunga pinjaman dan melonggarkan kebijakan pengetatan kredit "Saat ini suku bunga pinjaman masih 15-17%. Mestinya, suku bunga pinjaman bisa 11-12% atau 3-4% di atas BI rate," papar Hidayat. Menurut Benny, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) bisa atraktif bila suku bunga kredit hanya 12%. "Dengan demikian, ekspor bisa tumbuh sekitar 5% dan domestik tumbuh 15%," kata dia. Keengganan bank menurunkan suku bunga kredit menunjukkan perbankan nasional tidak efisien dan terlalu hati-hati dalam mengambil risiko. "Suku bunga pinjaman merupakan salah satu faktor krusial untuk menjaga pertumbuhan sektor riil. Jadi, harus dibuat kompetitif," papar Hidayat Purbaya menambahkan, perbankan seharusnya mengikuti sinyal dari bank sentral melalui BI rate. Dengan penurunan suku bunga kredit, dunia usaha bisa berekspansi dan perekonomian bergerak. "Kalau perbankan berpikiran jangka pendek dengan mempertahankan bunga kredit tinggi, perekonomian bakal terpuruk dan sektor perbankan juga akan hancur," jelas dia. Untuk mengatasi kebekuan ini, menurut Purbaya, pemerintah lebih baik memaksa perbankan untuk menurunkan suku bunga. Hal itu dapat dilakukan dengan memerintahkan bank BUMN agar diikuti bank-bank swasta. "Langkah ini memang akan mengurangi profit, tapi lebih murah ketimbang menunggu kehancuran ekonomi nasional," tegas dia. Oleh karena itu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) agar menetapkan suku bunga penjaminan tidak melebihi BI rate. "Saya lihat sekarang tingkat bunga LPS justru telah mendistorsi kebijakan moneter, itu tidak boleh terjadi," kata Purbaya. Ditanya kemungkinan LPS mengikuti jejak bank sentral yang agresif menurunkan BI rate. Ketua Dewan Komisioner LPS Rudjito mengatakan, pihaknya akan mengikuti kebijakan tersebut "Nanti baru mau kita bahas, biasanya suku bunga LPS akan selalu mengikuti BI rate," kilah dia. Menurut Ahmad Erany Yustika, pemerintah sudah saatnya bertindak tegas dengan memaksa perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit "Dalam kondisi perekonomian yang normal, mungkin perbankan tidak perlu dipaksa, tapi dalam kondisi tidak normal seperti sekarang pemerintah harus memaksa mereka," kata dia. Bila suku bunga turun, Erani yakin target pertumbuhan ekonomi sebesar 4-4,5% pada tahun ini masih dapat dicapai. Dengan demikian, sektor perbakan juga bisa terhindar dari kehancuran. Namun, Erwin Aksa pesimistis suku bunga kredit bisa segera turun karena banyak bank yang masih menawarkan suku bunga deposito hingga 12,5%. "Itu menyebabkan dampak penurunan BI rate ke sektor riil sangat kecil," tutur dia. Likuiditas Membaik Menurut Boediono, kondisi perbankan nasional sampai saat ini cukup stabil. Aliran likuiditas di pasar uang antarbank pun mulai membaik dibanding dengan beberapa bulan yang lalu. Akibat melemahnya perekonomian dan kehati-hatian perbankan, penyaluran kredit turun 2,1% pada Januari 2009. "BI tetap mencermati kecenderungan meningkatnya risiko kredit yang berpotensi meningkatkan NPL," jelas Gubernur BI. Namun, kalangan perbankan masih merasakan ketatnya likuiditas di pasar keuangan. Hal ini membuat bank agar berat menurunkan suku bunga depositonya. Dengan demikian, suku bunga kredit masih sangat tergantung dari suku bunga deposito. "Menurut saya, yang harus dilakukan adalah bagaimana supaya suku bunga deposito ini bisa turun," ujar Direktur Keuangan UOB Buana Safrullah Hadi Saleh. Kalau likuiditas masih ketat, menurut Safrullah, mau tidak mau bank menawarkan bunga deposito mahal demi mendapatkan likuiditas. Akibatnya, bank susah menurunkan suku bunga kredit "Jadi, sangat ter-gantung dari likuiditas banknya, kembali lagi kasusnya masalah likuiditas," jelas dia. Meski demikian, UOB Buana telah menyesuaikan suku bunganya terhadap penurunan BI rate sebelumnya. Namun, UOB Buana belum berencana menurunkan suku bunga lagi sebagai respons atas BI rate 7,75%. "Suku bunga kami untuk beberapa jenis kredit sudah berada di bawah 11%," paparnya. Hal senada diungkapkan Direktur Bank Mandiri Budi G sadikin dan Wakil Direktur Utama Bank Panin Roosniati Salihin. Keduanya berharap penurunan BI rate kali ini bisa mempercepat penurunan suku bunga. Namun, bank masih sulit menurunkan bunga dana akibat belum meratanya likuiditas di masing-masing bank. "Walaupun Bank Mandiri punya likuiditas berlimpah, tetap saja sulit menurunkan bunga deposito, karena pasar masih memasang bunga tinggi," kata Budi. Sejak penurunan BI rate awal 2009, Bank Mandiri telah menurunkan bunga dua kali. Bahkan, bank pelat merah itu akan mengkaji lagi kebijakan suku bunga. Saat ini, rata-rata bunga deposito Bank Mandiri terendah sekitar 6,5%, namun bisa dikenakan bunga lebih tinggi sesuaibesaran dana. "Kalau bunga kredit rata-rata 15%," ujar dia. Roosniati Salihin mengakui, penurunan BI rate menjadi harapan pengusaha untuk meningkatkan gairah sekaligus mengurangi beban operasional. "Bagi bank, efek penurunan BIVaA? belum tentu membuat kredit meningkat. Namun, hal ini sinyal positif bagi pengusaha untuk meminjam, karena bunga rendah," kata Roosniati. Menurut dia, tingginya bunga dana di pasar masih terjadi, meski likuiditas 15 bank terbesar di Indonesia sudah membaik. "Paling tidak, ini menyadarkan nasabah untuk tidak meminta bunga deposito tinggi. Jadi, bank bisa menekan bunga kredit," katanya. Ekonom Senior BNI Ryan Kiryanto, bank sentral seudah seharusnya menurunkan BI rate, karena inflasi Februari hanya 0,21%. Hal ini memberi peluang perbankan untuk menurunkan suku bunga meski belum tentu semua bank bisa melakukannya, karena masih memiliki dana mahal. Pada akhir 2009, Ryan memprediksi, BI rate berada pada kisaran 7-7,5%. Namun, dengan catatan inflasi year on year mencapai 6%. (ris/dry/tri/ed) |











