| Beranda |
| Tentang Kami |
| Unit Usaha |
| Sumber Daya Manusia |
| Tanggung Jawab Sosial |
| Berita |
| Peta Situs |
| Hubungi Kami |
| Pencarian |
| Karir |
Statistics
Pengunjung: 1219326| Semen Bosowa Batal IPO |
|
|
| Thursday, 05 March 2009 | |
|
OLEH BAMBANG P. JATMIKO Bisnis Indonesia JAKARTA PT Semen Bosowa akhirnya membatalkan rencana penawaran publik perdana (Initial Public Offering/IPO) untuk meraup dana sebesar Rp 1 triliun pada tahun ini lantaran kondisi pasar yang dinilai tidak menguntungkan. Chief Executive Officer Bosowa Erwin Aksa Mahmud mengatakan perseroan memilih menggunakan dana internal dulu untuk membiayai rencana bisnis perseroan yang dijalankan tahun ini. "Kami belum ada rencana untuk aksi korporasi pada pekan ini, kecuali mendanai pembiayaan bisnis dari dana internal perusahaan," ujarnya pekan ini di sela-sela World Islamic Economic Forum (WIEF). Menurut Erwin, perseroan juga belum berencana melanjutkan program kerja sama dengan perusahaan lain untuk mendukung bisnis perseroan. Berdasarkan catatan Bisnis, Semen Bosowa sebelumnya pernah melakukan pembicaraan dengan The Siam Cement Co Ltd asal Thailand, YTL Corporation Berhad dari Malaysia, dan Lavarge SA dari Prancis yang tercatat telah mengakuisisi PT Semen Andalas. Pembicaraan kerja sama dengan calon mitra strategis tersebut tidak hanya terfokus pada pendanaan, tetapi juga kerja sama di bidang operasional. (Bisnis, 15 Oktober 2008). Sebelumnya Bosowa Grup juga telah memberikan sinyal menahan ekspansi bisnis, dengan menunda pembangunan pabrik semen dan bisnis lainnya senilai US$100 juta yang direncanakan dilaksanakan pada tahun ini.
Likuiditas Perseroan menunda pembangunan tersebut lantaran kondisi likuiditas perbankan yang cukup ketat. Dalam rencana awal, investasi sebesar US$100 juta ini akan dialokasikan untuk mendanai akuisisi sebuah perusahaan properti, pembangunan pabrik pengolahan bahan baku semen dan pengadaan mesin senilai US$20 juta. Bosowa juga memiliki rencana untuk menaikkan kapasitas pabrik semen di Maros, dari 1,8 juta ton menjadi 2,2 juta ton per tahun, melalui program debottlenecking yang merupakan optimalisasi kapasitas produksi di pabrik yang telah ada. "Kami meningkatkan kapasitas lewat debottlenecking, dengan nilai investasi berkisar US$3 juta yang kami danai dari kas internal," ujarnya. |











